
Bengkulu-SuaraNusantara
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) melalui Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan pemindahan 17 dokter internship (magang) dari Kabupaten Lebong, Bengkulu. Para dokter magang tersebut kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Rafflesia dan Puskesmas Ratu Agung di Kota Bengkulu.
Pemindahan dilakukan secara simbolis di RSUD Lebong, Kamis (4/10/2017) dengan dihadiri perwakilan pihak Kemenkes, RSUD Lebong, Komite Intership Dokter Indonesia (KIDI) Wilayah Provinsi Bengkulu dan Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong.
Pemindahan merupakan buntut penamparan yang dialami dr. Ide yang dilakukan oleh Ketua DPRD Lebong Teguh Raharjo Eko Purwoto.  Kejadian terjadi pada hari Kamis, 14 September 2017, sekitar pukul 22.00 WIB di IGD RSUD Lebong saat Teguh membesuk rekannya.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Bengkulu sudah melakukan aksi demo di simpang lima Ratu Samban Kota Bengkulu menuntut agar Ketua DPRD Lebong dipecat dari jabatannya. IDI juga meminta partai Nasional Demokrat (Nasdem) memberikan sanksi terhadap kadernya yang bertindak melawan hukum.
Dikutip dari kompas.com, Teguh Raharjo Eko Purwoto menceritakan kronologi kejadian tersebut. Pada malam kejadian itu, Raharjo mengaku tengah menghadiri sebuah hajatan milik warga. Di tengah hajatan, dia menerima telepon dari seorang anggota DPRD bernama Popiansyah.
“Dia (Popiansyah) mohon disidak pelayanan di RSUD Lebong,” ujar Raharjo dalam klarifikasinya melalui telepon, Selasa (19/9/2017).
Raharjo mengaku langsung melakukan inspeksi mendadak ke RSUD Lebong dengan terlebih dahulu menghubungi Direktur RSUD Lebong dr Silvia. Di rumah sakit, dia masuk dulu ke salah satu kamar rumah sakit dan bertemu dengan warga yang dikenalnya. Warga tersebut mengantar cucunya yang sakit.
“Saya bertemu dengan rekan lain, kebetulan cucunya dirawat karena hidungnya kemasukan lipstik. Saya sempat berbincang menggunakan bahasa daerah,” ungkapnya.
Saat berbincang dengan pihak keluarga, seingat dia, terdapat sekitar enam orang berada di sekitarnya, termasuk dokter Ide.
“Saat itu saya tanya, ‘mana dokternya, apakah anak ini sudah diperiksa?'” kata Raharjo menirukan ucapannya saat itu.
Pertanyaannya dijawab oleh dokter Ide. Menurut Raharjo, dokter tersebut menjawab sambil menunjuk dadanya.
“Ini dokter, ini dokter, ini dokter, pasiennya sudah diperiksa,” kata Raharjo menirukan jawaban dokter Ide. Saat itu, ujar Teguh, dokter Ide terlihat tersinggung.
Towelan Teguh ke pipi dokter Ide kemudian dituding sebagai tindak penamparan. Menurutnya, jika benar dia menampar dokter Ide, seharusnya meninggalkan bekas tamparan.
“Silakan divisum apakah ada bekas tamparan, karena bukan tamparan. Saya cuma mentowel pipi, bukan menampar. Ini juga sudah saya klarifikasi ke polisi, direktur, dan dalam dengar pendapat di DPRD sudah saya sampaikan,” kata dia.
Kontributor: Sumaredi












