Suaranusantara.com – Delapan pekerja tambang yang terjebak di dalam lubang tambang emas di Banyumas, Jawa Tengah, sejak Selasa (26/07), saat ini masih berada dalam situasi yang tidak menentu.
Tim penyelamat menyatakan bahwa suplai oksigen yang selama ini diberikan kepada mereka telah habis karena pipa saluran oksigen tidak berfungsi akibat terendam air.
Kepala Basarnas Cilacap, Adah Sudarsa, pada Jumat (28/07), menjelaskan bahwa pipa plastik yang seharusnya menyuplai oksigen ke delapan pekerja tambang tidak dapat berfungsi karena terendam air. Masuknya air ke dalam pipa tersebut menyebabkan blower, yang bertugas untuk menyuplai oksigen, mengalami masalah sehingga pasokan oksigen terhenti.
“Karena kemasukan air, jadi blower [untuk menyuplai oksigen] bermasalah. Sehingga suplai oksigen tidak ada. Itu terjadi karena blower tidak berfungsi,” kata Adah Sudarsa
Lubang tambang ilegal ini diduga terendam air dari dua sungai yang mengalir di dekat lokasi pertambangan. Upaya penyelaman oleh tim penyelam juga belum dapat dilakukan karena lubangnya terlalu sempit. Lubang tambang ilegal ini memiliki diameter sekitar 1×1 meter, namun di bagian dalam lubang, diameternya menyempit menjadi sekitar 90 cm x 70 cm.
Kedalaman lubang mencapai antara 40 dan 60 meter. Kondisi medan yang sempit membuat upaya penyelamatan dengan menurunkan tim penyelam secara bersama-sama menjadi tidak mungkin dilakukan.
“Penyelaman jelas tidak mungkin bersama-sama, karena kondisi medan yang sempit,” tambah Adah
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai nasib delapan pekerja tambang yang terjebak di dalam lubang tersebut. Para penyelamat masih berupaya mencari cara untuk menyelamatkan mereka, tetapi kendala-kendala teknis yang dihadapi, seperti masalah pasokan oksigen dan keterbatasan akses ke lokasi, menjadi tantangan serius dalam upaya penyelamatan.
Masyarakat dan pihak berwenang terus memantau perkembangan situasi dan berharap agar para pekerja tambang dapat segera ditemukan dan diselamatkan dengan selamat.
Lubang tambang diperkirakan memiliki kedalaman sekitar 70 meter. Penggunaan kamera inspeksi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan para korban yang terjebak.
“Kami juga berdoa semoga hasilnya akan memberikan yang terbaik,” ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, di lokasi tambang pada hari Kamis, seperti yang dilaporkan oleh wartawan Liliek Dharmawan untuk BBC News Indonesia.
Kamera inspeksi telah dimasukkan ke dalam lubang dan memberikan gambaran bahwa sumur tersebut tergenang air keruh. Langkah selanjutnya yang direncanakan adalah menutup aliran air yang masuk ke dalam lubang tambang, yang diduga berasal dari dua sungai di sekitarnya, menurut pernyataan tim SAR.
Delapan pekerja tambang tradisional yang terjebak dalam lubang tersebut adalah Cecep Suriyana (29), Muhammad Rama (38), Ajat (29), Mad Kholis (32), Marmumin (32), Muhidin (44), Jumadi (33), dan Mulyadi (40). Mereka berasal dari Bogor, Jawa Barat.
Situasi penyelamatan tetap menantang karena lubang tambang terlalu sempit untuk penurunan tim penyelamat secara bersamaan.
Para penyelamat terus berusaha mencari cara untuk menyelamatkan para pekerja tambang tersebut dan upaya-upaya lainnya sedang dipertimbangkan agar mereka bisa segera ditemukan dan diselamatkan dengan selamat.
Masyarakat dan pihak berwenang terus mengikuti perkembangan situasi dengan harapan para korban akan segera mendapatkan pertolongan yang tepat.(Dn)













Discussion about this post