
Gunungsitoli – Suara Nusantara
Menjelang perayaan hari Natal dan Tahun Baru 2018, harga bahan pokok di Kota Gunungsitoli mulai mengalami kenaikan. Di Pasar Beringin, sejak pertengahan Desember 2017 kemarin, kenaikan sudah terjadi pada cabai merah, cabai rawit, tomat, bawang merah, dan bawang putih.
Cabai merah dan cabai rawit yang semula Rp40.000 per kilogram (kg), kini naik menjadi Rp60.000 per kg, sedangkan bawang merah dan bawang putih yang semula Rp25.000 ribu per kg, kini naik menjadi Rp30.000 per kg. Untuk harga tomat, sebelumnya Rp10.000 per kg, naik menjadi Rp13 ribu per kg.
Kemudian, untuk beras IR-64, satu karung ukuran berat 10 kg kini naik menjadi Rp130.000, dari sebelumnya Rp110.000 per karung. Gula pasir yang semula Rp13.000 per kg naik menjadi Rp14.000 per kg, sedangkan minyak goreng curah naik dari Rp12.000 per kg menjadi Rp14.000 per kg.
Di Pasar Nou, harga daging ayam potong naik dari Rp25.000 per kg ke/menjadi Rp28.000 per kg, sedangkan ayam kampung (pedaging) yang semula Rp110.000 per ekor, naik menjadi Rp130.000 per ekor.
Di Pasar Luaha Nou, harga ikan turut merangkak naik. Ikan Turusi contohnya, sebelumnya Rp50.000 per kg, naik menjadi 75.000 per kg. Ikan Nanas naik menjadi Rp 65.000 per kg, dari sebelumnya 35.000 per kg.
Pantauan SuaraNusantara, Kamis (21/12/2017), hingga menjelang malam ketiga pasar tradisional tersebut masih ramai dikunjungi pembeli.
Salah seorang pedagang di Pasar Beringin bernama Ina Brian Laoli mengakui bila hampir pada setiap perayaan besar seperti Natal dan Tahun Baru selalu terjadi kenaikan harga. Menurutnya, kenaikan harga ini dipicu ulah spekulan yang memanfaatkan tingginya permintaan di pasar.
“Begitu kalau sudah Natal wö bang. Habis melonjak harga barang semua. Dari tauke, harga bahan pokok ini sudah dinaikkan. Ya terpaksa kami menaikkan juga. Kalau tidak, rugilah kami,” kata Ina Brian.
Sementara itu, salah seorang pembeli, Ina Gadema Zega, mengatakan, kenaikan harga sembako ini cukup memberatkan masyarakat, apalagi harga karet di Nias sedang berada di angka Rp6.800 per kg (pada hari itu). Ia berharap, ada solusi dari pemerintah.
“Susah kita karena kenaikan harga sembako ini. Ditambah lagi, harga karet masih murah dan curah hujan pun sedang tinggi, sehingga karet tak bisa disadap. Gak sanggup saya membelikan baju baru bagi anak saya untuk Natal dan Tahun Baru ini,” keluhnya.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Gunungsitoli, Abdul Majid Chaniago, kepada SuaraNusantara via selulernya, pun membenarkan soal kenaikan harga sembako ini. Senada dengan para pedagang di pasar, Abdul menduga kenaikan harga disebabkan tingginya permintaan dan ulah spekulan.
“Gak ada yang terlalu signifikan. Saya berani jamin ketersediaan bahan-bahan pokok di Gunungsitoli aman sampai bulan Februari 2018 mendatang,” tegas Abdul.
Dikatakannya, pihaknya selalu memantau situasi harga di pasar. Apabila ke depan ini benar-benar terjadi lonjakan harga yang signifikan, Disperindagkop akan menggelar operasi pasar bekerjasama dengan Perum Bulog.
“Kita bersama beberapa instansi terkait akan senantiasa memantau harga setiap hari, dan berkoordinasi dengan pihak distributor atau pengusaha, termasuk pemilik Stasiun Pengisian Bahan bakar minyak Umum (SPBU), untuk menjamin ketersediaan bahan-bahan pokok dan minyak dan juga kestabilan harganya,” tutup Abdul.
Kontributor: Dohu Lase












