Suaranusantara.com – Tanggal 12 Mei merupakan momentum kelam bagi seluruh mahasiswa Indonesia. Pada tanggal tersebut, diperingati sebuah tragedi besar bernama Tragedi Trisakti.
Pada tragedi tersebut, ada empat mahasiswa yang kehilangan nyawanya karena penembakan. Saat itu, para mahasiswa sedang melakukan demonstrasi kepada Presiden Soeharto agar mundur dari jabatan presiden.
Empat mahasiswa yang gugur itu adalah Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto dan Hendriawan Sie.
Pasca tragedi itu, gelombang perlawanan mahasiswa untuk menurunkan rezim orde baru bukannya surut, namun justru semakin kuat dan lantang.
Untuk memperingati perjuangan tersebut, setiap tanggal 12 Mei diperingati sebagai Hari Peringatan Tragedi Trisakti.
Lantas apa yang terjadi pada 21 Mei 1998?
Demonstrasi mahasiswa di Universitas Trisakti merupakan rangkaian aksi mahasiswa yang menuntut adanya reformasi sejak awal 1998.
Aksi mahasiswa makin masif, berani, dan terbuka pasca MPR mengangkat kembali Presiden Soeharto untuk ketujuh kalinya dalam Sidang Umum MPR 10 Maret 1998.
Jika sebelum Sidang Umum 1-11 Maret 1998 aksi Mahasiswa dilakukan di dalam kampus, setelah sidang itu berjalan, pola perlawanan mahasiswa berubah dengan sering melakukan aksi di luar kampus.
pada 5 Maret 1998 saat sidang MPR berjalan, perwakilan mahasiswa sempat bertemu dengan Fraksi ABRI untuk menyampaikan penolakan pada laporan pertanggungjawaban Soeharto.
Namun, aspirasi tersebut hanya didengarkan dan tidak dipenuhi. Adapun aksi di di depan kampus Trisakti tercatat sebagai salah satu demonstrasi mahasiswa terbesar yang dilakukan di luar kampus.
Posisi kampus yang terletak di Grogol, Jakarta Barat, membuat Trisakti menjadi lokasi yang strategis untuk demonstrasi karena dekat dengan gedung DPR/MPR.
Karena alasan itu, Universitas Trisakti kemudian menjadi titik kumpul para mahasiswa dari berbagai kampus.
aksi dimulai di dalam kampus pada pukul 11.00 WIB dengan salah satu agendanya mendengarkan orasi Jenderal Besar AH Nasution.
Meski Nasution tak jadi datang, aksi tetap dilanjutkan dengan mendengarkan orasi dari para guru besar, dosen dan mahasiswa.
Dua jam berselang, pukul 13.00 WIB, para mahasiswa keluar kampus menuju jalan S Parman. Mereka berniat melakukan long march ke gedung DPR/MPR di Senayan.
Barisan depan long march diisi oleh para mahasiswa yang membagikan mawar pada aparat kepolisian yang mengadang ribuan peserta demonstrasi.
Negosiasi kemudian terjadi antara perwakilan pimpinan mahasiswa dan alumni yakni Dekan Fakultas Hukum Universitas Trisakti Adi Andojo dengan Komandan Kodim Jakarta Barat Letkol (Inf) A Amril.
Kesepakatannya, demonstrasi hanya bisa berjalan sampai depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat, yakni 300 meter dari pintu utama Universitas Trisakti.
Maka mahasiswa kemudian melanjutkan aksi dengan menggelar mimbar bebas menuntut agenda reformasi dan Sidang Istimewa MPR.
Aksi berjalan sampai pukul 17.00 WIB tanpa ketegangan berarti. Beberapa peserta aksi juga sudah mulai kembali masuk ke lokasi kampus.
Namun, saat sekitar 70 persen mahasiswa peserta aksi sudah kembali ke dalam kampus, suara letusan senjata api terdengar dari arah aparat keamanan.
Sontak para mahasiswa berhamburan dan berusaha untuk menyelamatkan diri. Ada yang memasuki kampus, ada juga yang melompati pagar tol untuk menyelamatkan diri.
Aparat keamanan lalu bergerak dan memukuli peserta demonstrasi. Mahasiswa tak tinggal diam melihat aksi tersebut dan mulai melakukan perlawanan dengan melemparkan benda apa saja dari dalam kampus kepada aparat
diketahui penembakan tidak hanya dilakukan dari aparat keamanan yang berjaga di sekitar kampus Trisakti.
Aparat juga menembak mahasiswa dari atas fly over Grogol dan jembatan penyeberangan. Lebih parahnya lagi, aparat keamanan tidak hanya menghujani mahasiswa dengan peluru karet.
Pihak kampus menemukan aparat melakukan tembakan terarah dengan menggunakan peluru tajam. ( RIFKY/M-UBL )













Discussion about this post