SuaraNusantara.com-Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki berupaya mengurangi impor garam, khususnya untuk kebutuhan industri, dengan meningkatkan sistem produksi garam yang dilakukan oleh para petani melalui proyek Rumah Produksi Bersama Pengolahan Garam.
Menurut MenKopUKM Teten, sebagian besar garam yang digunakan di Indonesia adalah impor, terutama untuk keperluan industri. Meskipun konsumsi garam setahunnya hanya mencapai 600 ribu ton, garam yang diimpor untuk industri berkisar antara 2,1 hingga 2,3 juta ton. Menurutnya, jika produksi garam petani bisa ditingkatkan dalam hal kualitas, kuantitas, dan kontinuitasnya, hal ini akan berdampak pada kebijakan impor garam.
Teten mengungkapkan bahwa proyek Rumah Produksi Bersama (RPB) menggunakan teknologi modern sebagai bagian dari program hilirisasi produk-produk unggulan nasional. Ada delapan RPB yang dijadikan proyek percontohan dengan komoditas yang sesuai dengan keunggulan daerah masing-masing.
Baca Juga: Mitos dan Fakta: Mengungkap Keefektifan Garam sebagai Racun Tikus, Begini Caranya
Diharapkan kehadiran RPB Pengolahan Garam di Sulawesi Selatan akan membantu UMKM untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan bukan sekadar produk biasa. RPB ini memiliki luas produksi garam seluas 817 hektar dan ditargetkan mampu menjangkau dua jenis konsumen, yaitu 80 persen untuk industri dan 20 persen untuk konsumsi.
Menurut Menteri Teten, selain meningkatkan sistem produksi, RPB Pengolahan Garam juga akan digunakan untuk mengembangkan bisnis garam melalui koperasi. Koperasi akan menyerap dan mengolah hasil panen garam petani serta memasarkannya langsung ke konsumen, tanpa melibatkan perantara yang panjang, sehingga dapat mengurangi biaya produksi.
“Kami ingin produk-produk UMKM itu juga punya standar industri kualitasnya. Pabrik yang di bangun bisa digunakan bersama sama makanya kita namakan Rumah Produksi Bersama,” ucapnya saat meninjau pembangunan Rumah Produksi Bersama di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, Kamis 19 Oktober 2023.
Baca Juga: Sekjen Hasto Umumkan Menkop UKM Teten Resmi Masuk PDIP di Apel Siaga Lebak
Dia menjelaskan bahwa ini merupakan tugas koperasi untuk mencari pelanggan (off-taker) dan memasok barang langsung ke supermarket modern atau pabrik yang memerlukan garam, tanpa melalui tengkulak, sehingga petani dapat menikmati harga yang lebih baik.
Menteri Teten juga mengutip contoh sukses koperasi sayur mayur di Ciwidey, Jawa Barat, yang telah meningkatkan kesejahteraan anggotanya dengan membeli langsung hasil panen petani dan memasarkannya ke supermarket modern Superindo. Kualitas hasil panen yang terus meningkat telah meningkatkan permintaan, dari 8 ton per hari menjadi 80 ton per hari.
Dia menekankan pentingnya pengelolaan dan distribusi yang efisien melalui koperasi dan menjadikannya sebagai saluran yang transparan dan dapat dipercaya oleh petani.













Discussion about this post