Suaranusantara.com – Pasca-pandemi Covid-19 ekonomi kembali menggeliat, terutama di sektor industri kreatif.
Hal itu diungkapkan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jabar, Tubagus Raditya, saat diwawancarai di Jalan Halimun, Kota Bandung, Selasa (23/5/2023).
Ketua Kadin Jabar, Tubagus Raditya menyatakan, pelaku di sektor industri kreatif sangat banyak dan memiliki potensi yang tinggi.
Namun, para pelaku industri kreatif kerap terkendala akses permodalan. Salah satunya contohnya penyelenggaraan event konser musik.
“Mereka bisa mendapatkan proyek dan sponsor dari pemerintah atau swasta. Tapi, biasanya ada keterbatasan modal dasar untuk memulai proyek karena biasanya kan pemerintah membayarnya setelah proyek selesai,” ujar Tubagus.
Padahal, kata dia, event seperti konser musik memiliki efek ganda yang luar biasa terhadap ekonomi.
“Contohnya Now Playing Festival kemarin, itu kan multipel efeknya luar biasa, banyak sponsor, pelaku UMKM yang mendapat dampak positif,” ujarnya
Tubagus pun mengakui, banyak pelaku industri kreatif yang meminta untuk difasilitasi agar event-nya terealisasi dan mendapat modal awal.
Dari permasalahan tersebut, Kadin Jabar kemudian bekerja sama dengan fintech bernama Finnix
Tubagus menyambut baik fintech bernama Finnix yang fokus sebagai fasilitator membantu pelaku industri kreatif mendapat akses modal dari lembaga keuangan.
Pihaknya berharap perbankan pun bisa memberikan keleluasaan permodalan berbasis value (nilai), tidak hanya penjaminan
“Kami berharap anak muda mengoptimalisasi kreativitasnya, ada Finnix yang sudah bisa menjembatani,” ujar dia.
Dalam kolaborasi ini, Finnix juga berperan sebagai fasilitator bagi pelaku industri kreatif dengan menyediakan dasbor yang mempermudah proses pengajuan pembiayaan, pembayaran, dan pengelolaan anggaran serta arus kas.
Sementara itu, CEO Finnix, Reinhart Hermanus mengatakan pihaknya sudah terlibat membantu menggarap sejumlah proyek, seperti konser di beberapa daerah.
Seperti Sabiphoria Festival (Jakarta), Now Playing Festival (Bandung), hingga Tour Dewa 19 (Pontianak).
Perusahaan yang berdiri pada September 2022 ini memberikan layanan berupa menyiapkan dokumen keuangan, hingga arus kas yang bisa diterima oleh lembaga keuangan untuk mendapatkan anggaran untuk menggarap proyek.
Hal tersebut sangat krusial namun seringkali luput dari perhatian para pelaku industri kreatif.
“Kami ingin membantu perusahaan mendanai proyek yang didapatkan. Lembaga keuangan menyangka industri kreatif berisiko tinggi, sehingga sulit mendapat akses permodalan. Aset jaminan terbatas,” ujar dia.
Finnix menjembatani antara pelaku industri kreatif dengan perbankan.
“Kami kurasi, kami hubungkan ke lembaga keuangan yang bisa mensupport. Total 40 proyek sudah dibantu dari sisi permodalan, Rp30 miliar dana yang sudah kami salurkan kurang lebih satu tahun ini,” ujar dia.
Di sisi lain, potensi dari industri ini mencapai Rp250 triliun setiap tahun. Faktor risiko dari sisi bisnis lebih terukur.
“Faktor risiko event lebih bisa terukur. Ini menjadi alasan mengapa dimulai dengan event. Proyek sudah pasti nilainya sekian, dibayarnya sudah ditentukan. Tinggal produksinya. Ini kami bantu permodalan di depan,” ujar dia.
Bagaimana sebuah proyek industri kreatif bisa dibantu, Reinhart menyatakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti sebuah perusahaan sudah dipastikan mendapatkan suatu proyek
“Perusahaannya harus yang sudah memenangi proyek. Kami bantu melengkapi laporan, keuangan dan sesuai standar Lembaga keuangan. Kalau butuh sistem kami bantu, kalau butuh permodalan kami bantu,” ujar dia.
“Yang bisa bikin gagal itu apa saja sih. Itu bisa karena dokumentasi laporan keuangan, pencatatan kurang rapih, atau ada rekam jejak kredit yang tidak baik,” ujarnya ( RIFKY/M-UBL )













Discussion about this post