Suara Nusantara
Advertisement
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks
No Result
View All Result
  • Login
Suara Nusantara
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks
No Result
View All Result
  • Login
Suara Nusantara
Home Uncategorized

HPP Beras Perlu Direvisi

Suara Nusantara by Suara Nusantara
25 March 2018
in Uncategorized
Reading Time: 2 mins read
A A
1
SHARES
9
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Penulis: Eka Maryono

Indonesia kebanjiran beras impor! Total 240.000 ton beras dari Thailand dan Vietnam masuk ke Indonesia pada Maret ini. Sementara 20.000 ton beras dari India dan Pakistan masuk pada Mei mendatang.

BACAJUGA

Gagal Paham Promosi Wisata Lebak

Keseruan Berlibur di Curug Sata Gunungkencana

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan dengan masuknya 260.000 ton beras impor, maka kuota impor 500.000 ton telah dipenuhi sesuai izin yang ada. Dia meyakini jumlah beras impor tersebut cukup untuk mengendalikan harga beras di pasaran yang cenderung merangkak naik, khususnya menjelang bulan puasa.

Pertanyaannya, mengapa Indonesia masih mengimpor beras? Bukankah Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan produksi beras dalam negeri mengalami surplus pada puncak panen di bulan Februari kemarin? Bukankah menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution, bulan April mendatang merupakan masa panen raya? Benarkah impor beras memang jalan terbaik untuk mengendalikan harga?

Dari sini kita bisa menarik beberapa kemungkinan. Pertama, surplus produksi beras, terutama di sentra pertanian Pulau Jawa, sebenarnya tidak bisa menutupi kebutuhan beras nasional.  Bila ini yang terjadi, maka penghitungan data surplus yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian tidaklah akurat.

Bisa saja klaim produksi beras surplus dihitung dengan dasar perkiraan luas panen dan produksi gabah di beberapa daerah, misalnya di Pulau Jawa saja, tanpa disertai jumlah dan sebaran stok secara riil di seluruh wilayah Indonesia. Akhirnya, pengambilan keputusan berpotensi keliru.

Selain itu, naiknya harga beras juga membuat klaim surplus beras menjadi diragukan. Mekanisme pasar selalu menunjukkan harga akan naik bila kelangkaan barang terjadi. Bila stok beras lokal mengalami surplus, harusnya harga turun. Fakta di lapangan justru sebaliknya.

Berdasarkan catatan Pasar Induk Beras Cipinang, harga beras medium varietas IR 64 II mencapai Rp 10.625 per kilogram pada 1 Maret 2018. Di sinilah keanehannya, mengapa harga bisa naik saat pasar dibanjiri beras lokal, dan baru mulai turun setelah beras impor masuk, seolah-olah impor menjadi kewajiban bila ingin harga beras di negeri ini menjadi murah. Apakah hal ini hasil campur tangan mafia impor?

Kemungkinan kedua, mafia impor sebenarnya tidak ada, tetapi Bulog tidak mampu menyerap beras produksi lokal, sehingga terpaksa membeli dari luar. Kenyataannya Bulog kerap tidak mampu menyerap beras produksi dalam negeri karena harga jual dari petani yang kelewat tinggi.

Misalnya harga jual beras premium di Sumatra Barat mencapai Rp 12.500 per kilogram, sementara Harga Pembelian Pemerintah (HPP) maksimal hanya Rp 7.300 per kilogram. HPP ini menjadi kendala bagi Bulog dalam menyerap produk petani lokal. Bulog tidak berani membeli beras premium di atas HPP yang telah ditetapkan.

 

HPP Perlu Direvisi

HPP Rp 7.300 per kilogram ditetapkan pemerintah sejak 2015 dan belum ada perubahan sampai sekarang. Posisi Bulog pun menjadi serba salah. Di satu sisi, Bulog perlu membeli beras berkualitas bagus dari petani, tetapi di sisi lain, petani lebih senang menjualnya langsung ke pasar karena dihargai lebih tinggi di sana. Alhasil, Bulog pun kekurangan stok beras atau setidaknya perlu menambah stok sekadar untuk berjaga-jaga.

Ketidakmampuan Bulog menyerap produk beras petani lokal, mau tidak mau memaksa Bulog untuk mengimpor beras dari luar. Padahal impor beras selain berpotensi memukul petani lokal, juga membebani arus cash flow Bulog, karena dana internal untuk pembelian tidak mungkin langsung diganti oleh pemerintah.

Kiranya pemerintah perlu meninjau kebijakan HPP Rp 7.300 per kilogram agar Bulog dapat lebih optimal menyerap produk beras dari petani lokal demi meningkatkan kesejahteraan petani negeri sendiri. Dengan kata lain, jangan terlalu mengandalkan strategi impor untuk mengendalikan harga barang.

Impor beras mungkin cara tercepat untuk mengendalikan harga beras di pasaran, namun jelas bukan cara terbaik. Tidak perlu khawatir bila revisi HPP akan membuat harga beras lokal semakin menggila, asalkan pemerintah mampu mencegah terjadinya praktek penimbunan beras, niscaya harga beras akan stabil, bahkan seharusnya akan turun.

Penyediaan lapangan kerja di negeri sendiri jangan terus dikorbankan. Bila petani lokal tidak sejahtera, secara alamiah jumlah petani cepat atau lambat pasti berkurang. Bila itu terjadi, maka Indonesia selamanya akan selalu tergantung pada beras impor.

Apalagi bila impor beras hanya bertujuan agar stok beras nasional berlimpah, dan kelebihannya bisa diekspor kembali ke negara lain, sehingga terkesan Indonesia sudah swasembada beras, tentu dugaan buruk semacam ini jangan sampai terjadi. ***

*) Penulis mantan wartawan desk ekonomi, sosial dan budaya di Surat Kabar Mingguan (SKM) Inti Jaya dan Harian Suaka Metro

 

Tags: Kolom

Author

  • Suara Nusantara
    Suara Nusantara

    View all posts

ADVERTISEMENT

BERITA Lainnya

Kelelahan, 9 Anggota KPPS dan Panwas Pemilu di Lebak Dirawat
Uncategorized

Kelelahan, 9 Anggota KPPS dan Panwas Pemilu di Lebak Dirawat

by Defa
15 February 2024

SuaraNusantara.com - Sembilan anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS)...

ilustrasi Stress dalam pekerjaan (Dok. Istock)
Kesehatan

Atasi Stres Kerja dengan Mudah: Strategi Ampuh yang Bisa Dicoba Hari Ini

by Feri Spt
12 February 2024

Suaranusantara.com  - Stres di tempat kerja dapat menjadi masalah...

Ganjar Pranowo kampanye di Kaltim (Dok PDIP)

Kampanye di Kaltim, Ganjar Singgung Krisis Pelanggaran Jelang Pemilu 2024

7 February 2024
Tom Lembong saat live TikTok bersama Cawapres 01 Anies Baswedan, Sabtu 6 Januari 2024.(instagram)

Anies Baswedan dan Tom Lembong Live TikTok, Ungkap Rahasia Awet Muda

7 January 2024
tugu-yogyakarta(freepek)

4 Wisata Tersembunyi di Yogyakarta yang Wajib Dikunjungi

22 December 2023
Dolar

Kurs Rupiah di Bank BCA hingga CIMB Niaga, Yuk Simak Ulasannya Hari ini

4 December 2023

POPULER MINGGU INI

No Content Available

TOPIK: PEMILU 2024

Rekapitulasi Perhitungan Suara KPU Lebak, Prabowo – Gibran Menang di Semua Kecamatan

Gerakan Rakyat Banten Dukung DPR Pakai Hak Angket Usut Dugaan Kecurangan Pemilu

Real Count KPU Pileg DPRD Banten 32,44% : Gerindra 12,59%, PDIP 12,12%

Jokowi: Jangan Teriak Curang, Ada Mekanisme ke Bawaslu dan MK

Usai Unggul Suara Di Quick Count, Gibran Ingin Segera Sowan ke Paslon 1 dan 3

PILIHAN EDITOR

Viral Modus Kecurangan Pemilu, PSI Gunakan Suara Tidak Sah Menjadi Suara Sah di Banten!

Hadiri Kampanye Akbar di Bandung, Megawati Ingatkan TNI Polri Netral pada Pemilu 2024

Ribuan Kader PDIP Hadiri Kampanye Akbar Ganjar di Sidoarjo, Begini Kata Said Abduallah

Adanya Dugaan Skenario Hitam Untuk Jegal Prabowo-Gibran, TKN: Elektabilitas 02 Buat Sebagian Orang Frustasi

Debat Capres 2024, Anies Baswedan: Anggaran Pertahanan Rp 700 Triliun Tak Efektif

BERITA TERKINI

7 Buku Terbaik Sepanjang Masa yang Wajib Kamu Baca Minimal Sekali Seumur Hidup
Nasional

7 Buku Terbaik Sepanjang Masa yang Wajib Kamu Baca Minimal Sekali Seumur Hidup

by Doroti Krisley L
6 March 2024

Suaranusantara.com - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, buku tetap menjadi jendela menuju dunia lain. Dari kisah-kisah yang...

Tips Sukses(freepek)

Menggali Dampak Privilege: Kunci Kesuksesan atau Hanya Mitos?

6 March 2024
Ilustrasi beras (freepik)

Harga Beras Melonjak, Inilah Pilihan Pengganti Nasi yang Terjangkau

5 March 2024
Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Suara PSI yang Tiba-Tiba Naik Disorot Media Asing

5 March 2024
Galaxy S24 Ultra vs iPhone 15 Pro Max, Yuk Cek Mana Lebih Unggul

Galaxy S24 Ultra vs iPhone 15 Pro Max, Yuk Cek Mana Lebih Unggul

5 March 2024
Load More

Subscribe to our newsletter

Footer-Suara-Nusantara-Logo

SuaraNusantara.com menerapkan jurnalisme sesuai kaidah jurnalistik dan asas kemanusiaan agar berita disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga mampu membangkitkan optimisme dan perilaku positif para pembaca.

  • Disclaimer
  • Karier
  • Kode Etik
  • Info Iklan
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
  • UU Pers

PLATFORM LAINNYA

  • marinus gea
  • storia studio
  • marinus-gea-logo
  • morege

IKUTI KAMI

© 2022 Suara Nusantara. All rights reserved.

    Digital Solutions by Tjuanmuda

No Result
View All Result
  • Login
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks

SuaraNusantara.com menerapkan jurnalisme sesuai kaidah jurnalistik dan asas kemanusiaan agar berita disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga mampu membangkitkan optimisme dan perilaku positif para pembaca.

© 2022 SuaraNusantara.com

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In