Suara Nusantara
Advertisement
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks
No Result
View All Result
  • Login
Suara Nusantara
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks
No Result
View All Result
  • Login
Suara Nusantara
Home Uncategorized

Dilema Utang Rp 4 Triliun

Suara Nusantara by Suara Nusantara
24 March 2018
in Uncategorized
Reading Time: 3 mins read
A A
1
SHARES
9
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Penulis: Eka Maryono

Realisasi utang pemerintah hingga akhir Februari 2018 menembus Rp 4.034,8 triliun atau setara 29,24% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski pemerintah disebut mampu mencicilnya, namun benarkah semudah itu?

BACAJUGA

Gagal Paham Promosi Wisata Lebak

Keseruan Berlibur di Curug Sata Gunungkencana

Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Kementerian Keuangan, Scenaider Siahaan di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Kamis (15/3/2018) mengatakan, dari total utang yang mencapai Rp 4.034,8 triliun, rata-rata masa jatuh temponya sekitar 9 tahun.

Dengan acuan tersebut, perhitungan besaran cicilan utang pemerintah adalah Rp 405 triliun/tahun. Besaran cicilan itu, menurut Scenaider Siahaan, masuk dalam kategori aman bila dibandingkan dengan penerimaan negara dari pajak dan non pajak.

Sebagai acuan, berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi penerimaan negara di tahun 2017 mencapai Rp 1.659,9 triliun, sehingga tidak masalah bila harus dikurangi pembayaran cicilan utang yang hanya 450 triliun/tahun.

Scenaider Siahaan jelas tidak salah bila menilai pemerintah mampu mencicil utang, karena posisi utang pemerintah masuk kategori aman bila dilihat dari total penerimaan negara. Tetapi masalahnya, bukankah penerimaan negara masih harus dibagi untuk pos-pos pengeluaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)?

Secara umum, utang pemerintah baru bisa dikatakan aman bila mampu membayar pinjaman jatuh tempo, baik pokok maupun bunganya. Untuk membayar cicilan tersebut, pemerintah dapat menggunakan penerimaan negara dari pajak dan non pajak, dengan catatan devisa negara dalam kondisi surplus.

Sayangnya, rasio penerimaan pajak pemerintah yang berada di level 11-12% termasuk terendah di dunia. Dengan kata lain, kemampuan pemerintah untuk menjadikan sektor pajak sebagai penghasilan utama yang bisa dipakai untuk membayar utang, sebenarnya tergolong minim.

Sementara untuk penerimaan non pajak, sektor ekspor menjadi andalan. Tapi ekspor Indonesia cenderung tidak stabil dari tahun ke tahun, menyusul menurunnya beberapa harga komoditas, seperti kopi, kelapa sawit, lada, dan rumput laut. Permintaan global yang tak kunjung membaik, menambah parah kondisi tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat secara kumulatif nilai ekspor Indonesia periode Januari-Desember 2016 sebesar US$ 144,43 miliar atau turun 3,95% dibanding periode yang sama tahun 2015. Sementara periode Januari–Desember 2017 mencapai US$ 168,73 miliar atau meningkat 16,22% dibanding periode yang sama tahun 2016. Namun pada awal Januari 2018, BPS mencatat terjadi pelebaran defisit neraca perdagangan pada Januari 2018 sebesar US$ 670 juta. Pada bulan tersebut, nilai ekspor tercatat US$ 14,46 miliar, tetapi nilai impor mencapai US$ 15,13 miliar.

Berkaca pada rapuhnya stabilitas penerimaan negara, cicilan utang Indonesia sebenarnya bisa dikatakan masuk kategori tidak aman, karena kita harus memperhitungkan alokasi APBN untuk berbagai pos, misalnya untuk proyek infrastruktur yang sedang digenjot pemerintah, gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS), hingga subsidi demi menjaga daya beli masyarakat. Semua itu berpotensi menggerogoti pendapatan negara.

Ditambah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya berkutat di angka 5% menjadi persoalan tersendiri, karena artinya pemerintah gagal memanfaatkan pinjaman utang untuk memperbaiki kinerja sektor industri yang seharusnya bisa diandalkan untuk membantu melunasi utang tersebut.

Dengan demikian sangat tidak tepat bila pemerintah merasa aman untuk terus menambah utang hanya lantaran jumlah PDB yang besar. Penerimaan yang besar jika tidak diimbangi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, maka tidak ada nilai lebihnya, mengingat jumlah penduduk di Indonesia terbilang banyak dan menempati wilayah yang begitu luas. Ibarat seseorang yang memiliki pendapatan tinggi, namun pada saat bersamaan begitu banyak kebutuhan yang harus ditanggung. Pada akhirnya pendapatannya akan habis hanya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa utang Indonesia masih aman dan belum setinggi Jepang dan Amerika Serikat juga patut dipertanyakan. Selama ini pemerintah memang mengklaim, jumlah utang masih dalam level aman karena masih di kisaran 29,2% PDB dan belum melewati batas 60% rasio PDB, sebagaimana diamanatkan UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Keuangan Negara yang memperbolehkan rasio utang hingga menyentuh 60% dari PDB.

Namun kurang bijaksana bila membandingkan laju pertumbuhan utang Indonesia dengan negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat. Pasalnya harus dilihat dari kemampuan negara dalam membayar utang, yakni dari sisi produktivitas industri. Jepang dan Amerika Serikat adalah raksasa industri yang meski berhutang banyak tetapi memiliki kesanggupan untuk mencicil hutang, karena pendapatan mereka dari sektor industri sangat tinggi. Berbeda dengan sektor industri Indonesia yang selalu ketar-ketir dihajar produk impor.

Mata uang rupiah yang cenderung melemah dibanding dolar Amerika juga berperan dalam menambah beban cicilan utang. Melemahnya rupiah terhadap dolar bisa membuat nilai utang membengkak. Bila terjadi gejolak yang melemahkan rupiah, tentu bisa meningkatkan risiko gagal bayar utang lantaran utang Indonesia dihitung dengan dolar.

Mencari Jalan Keluar

Ada beberapa sumber yang bisa digunakan untuk membayar utang. Selain penerimaan negara dalam bentuk pajak maupun bukan pajak, pemerintah dapat memakai tabungan dan aset untuk melunasi utang, atau membuat surat utang baru.

Menurut Scenaider Siahaan, bila penerimaan negara bisa mencatat surplus Rp 500 triliun, kemudian dibagikan dengan utang Rp 4.000 triliun, maka dalam waktu 8 tahun, seluruh utang dapat terlunasi. Tapi faktanya hampir setiap tahun APBN mengalami defisit.

Untuk memakai tabungan dan aset pun perlu dipertanyakan apakah pemerintah memiliki tabungan cukup untuk melunasi utangnya, dan aset apa yang bisa ‘dilego’ tanpa menimbulkan sentimen negatif masyarakat? Sementara menerbitkan surat utang baru untuk dijual kepada investor, tak ubahnya ‘gali lubang, tutup lubang’, membayar utang lama dengan utang baru.

Solusi paling realistis mungkin dengan melakukan reformasi perpajakan alias mengoptimalkan sektor pajak sebagai sumber penerimaan utama. Seperti diketahui, besar pajak yang harus ditanggung wajib pajak di Indonesia, baik perorangan maupun perusahaan, sebenarnya termasuk yang tertinggi di dunia. Tetapi penerimaan negara dari sektor ini terbilang minim, artinya masih ada kesalahan.

Jalan keluar selanjutnya adalah dengan mengoptimalkan sektor industri, apalagi bila industri tersebut dimodali dari utang luar negeri. Selain itu beberapa pos pengeluaran harus diperketat. Misalnya dengan meninjau ulang usulan kenaikan gaji PNS yang sedianya akan dimasukkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019 serta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019.

Masalah utang tidak bisa dianggap remeh, sebab selain menjadi beban keuangan negara, juga berpotensi membebani masyarakat. ***

*) Penulis mantan wartawan desk ekonomi, sosial dan budaya

 

 

 

 

 

Tags: Kolom

Author

  • Suara Nusantara
    Suara Nusantara

    View all posts

ADVERTISEMENT

BERITA Lainnya

Kelelahan, 9 Anggota KPPS dan Panwas Pemilu di Lebak Dirawat
Uncategorized

Kelelahan, 9 Anggota KPPS dan Panwas Pemilu di Lebak Dirawat

by Defa
15 February 2024

SuaraNusantara.com - Sembilan anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS)...

ilustrasi Stress dalam pekerjaan (Dok. Istock)
Kesehatan

Atasi Stres Kerja dengan Mudah: Strategi Ampuh yang Bisa Dicoba Hari Ini

by Feri Spt
12 February 2024

Suaranusantara.com  - Stres di tempat kerja dapat menjadi masalah...

Ganjar Pranowo kampanye di Kaltim (Dok PDIP)

Kampanye di Kaltim, Ganjar Singgung Krisis Pelanggaran Jelang Pemilu 2024

7 February 2024
Tom Lembong saat live TikTok bersama Cawapres 01 Anies Baswedan, Sabtu 6 Januari 2024.(instagram)

Anies Baswedan dan Tom Lembong Live TikTok, Ungkap Rahasia Awet Muda

7 January 2024
tugu-yogyakarta(freepek)

4 Wisata Tersembunyi di Yogyakarta yang Wajib Dikunjungi

22 December 2023
Dolar

Kurs Rupiah di Bank BCA hingga CIMB Niaga, Yuk Simak Ulasannya Hari ini

4 December 2023

POPULER MINGGU INI

No Content Available

TOPIK: PEMILU 2024

Rekapitulasi Perhitungan Suara KPU Lebak, Prabowo – Gibran Menang di Semua Kecamatan

Gerakan Rakyat Banten Dukung DPR Pakai Hak Angket Usut Dugaan Kecurangan Pemilu

Real Count KPU Pileg DPRD Banten 32,44% : Gerindra 12,59%, PDIP 12,12%

Jokowi: Jangan Teriak Curang, Ada Mekanisme ke Bawaslu dan MK

Usai Unggul Suara Di Quick Count, Gibran Ingin Segera Sowan ke Paslon 1 dan 3

PILIHAN EDITOR

Viral Modus Kecurangan Pemilu, PSI Gunakan Suara Tidak Sah Menjadi Suara Sah di Banten!

Hadiri Kampanye Akbar di Bandung, Megawati Ingatkan TNI Polri Netral pada Pemilu 2024

Ribuan Kader PDIP Hadiri Kampanye Akbar Ganjar di Sidoarjo, Begini Kata Said Abduallah

Adanya Dugaan Skenario Hitam Untuk Jegal Prabowo-Gibran, TKN: Elektabilitas 02 Buat Sebagian Orang Frustasi

Debat Capres 2024, Anies Baswedan: Anggaran Pertahanan Rp 700 Triliun Tak Efektif

BERITA TERKINI

7 Buku Terbaik Sepanjang Masa yang Wajib Kamu Baca Minimal Sekali Seumur Hidup
Nasional

7 Buku Terbaik Sepanjang Masa yang Wajib Kamu Baca Minimal Sekali Seumur Hidup

by Doroti Krisley L
6 March 2024

Suaranusantara.com - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, buku tetap menjadi jendela menuju dunia lain. Dari kisah-kisah yang...

Tips Sukses(freepek)

Menggali Dampak Privilege: Kunci Kesuksesan atau Hanya Mitos?

6 March 2024
Ilustrasi beras (freepik)

Harga Beras Melonjak, Inilah Pilihan Pengganti Nasi yang Terjangkau

5 March 2024
Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Suara PSI yang Tiba-Tiba Naik Disorot Media Asing

5 March 2024
Galaxy S24 Ultra vs iPhone 15 Pro Max, Yuk Cek Mana Lebih Unggul

Galaxy S24 Ultra vs iPhone 15 Pro Max, Yuk Cek Mana Lebih Unggul

5 March 2024
Load More

Subscribe to our newsletter

Footer-Suara-Nusantara-Logo

SuaraNusantara.com menerapkan jurnalisme sesuai kaidah jurnalistik dan asas kemanusiaan agar berita disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga mampu membangkitkan optimisme dan perilaku positif para pembaca.

  • Disclaimer
  • Karier
  • Kode Etik
  • Info Iklan
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
  • UU Pers

PLATFORM LAINNYA

  • marinus gea
  • storia studio
  • marinus-gea-logo
  • morege

IKUTI KAMI

© 2022 Suara Nusantara. All rights reserved.

    Digital Solutions by Tjuanmuda

No Result
View All Result
  • Login
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks

SuaraNusantara.com menerapkan jurnalisme sesuai kaidah jurnalistik dan asas kemanusiaan agar berita disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga mampu membangkitkan optimisme dan perilaku positif para pembaca.

© 2022 SuaraNusantara.com

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In