
Medan – SuaraNusantara
Suasana unjukrasa ribuan nelayan yang tergabung dalam Forum Aliansi Nelayan Sumatera Utara di depan kantor Gubernur Sumut, Kamis (8/2/2018), kelihatan berbeda ketika seorang wanita berikat kepala warna merah bertuliskan “PERKALIN, Nelayan Sibolga Tapteng”, naik panggung berorasi. Apakah ada wanita nelayan?
Wanita itu, Hj Erlinawati Simanjuntak (45) warga Jalan Perintis Kemerdekaan Sibolga. “Wanita nelayan tidak ada, saya ini istri nelayan,” katanya saat wawancara dengan suaranusantara.com di sela-sela hiruk pikuk orasi dan teriakan para pengunjuk rasa.
Diungkapkannya, keikutsertaannya dalam aksi ini, sebagai bentuk dukungan moril kepada para nelayan yang sedang memperjuangkan persamaan hak dalam menggunakan alat tangkap ikan, cantrang.
“Saya merasakan langsung betapa pedih dan menyedihkannya nasib nelayan, ketika alat tangkap ikan, cantrang, dilarang penggunaannya. Di wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah, sudah bertahun-tahun terjadi pelarangan. Kondisi itu aangat berpengaruhi kepada perekonomian para nelayan, buruh nelayan, pekerja pengasinan ikan, penjual makanan dan lainnya,” kata Erlinawati Simanjuntak yang datang ke bersama 49 istri nelayan lainnya ke Medan.
Erlinawati yang mengaku sebagai pengusaha pengasinan ikan itu, tidak dapat lagi mempekerjakan 10 karyawannya, karena para nelayan sudah tidak sanggup menyediakan ikan untuk diasinkan.
“Sepuluh karyawan saya jadi penggangguran,” katanya.
Ketika Menteri Kelauatan dan Perikanan memberi ijin bagi 6 wilayah di Pulau Jawa, untuk bebas menggunakan alat tangkap ikan jenis cantrang, Erlinawati mengaku sangat sedih.
“Ibu Menteri melakukan tindakan diskriminasi, dan seakan kita nelayan Sumut bukan bagian dari NKRI. Kita ini kan punya hak yang sama, jangan dibuat perbedaan dan pengkotak-kotakan,” katanya.
Penulis: Ingot Simangunsong












