
Jakarta-SuaraNusantara
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima kunjungan Perdana Menteri (PM) Kerajaan Denmark Lars Løkke Rasmussen beserta istri Solrun Løkke Rasmussen di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/11/2017) siang.
Kedatangan PM Denmark disambut dengan iringan 21 dentuman meriam. Dalam acara tersebut, juga tampak jajaran pasukan berkuda dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang mengenakan pakaian adat menyambut kedatangan PM Denmark dan istri.
Usai mendengarkan lagu kebangsaan dari kedua negara, Jokowi dan PM Denmark melakukan sesi foto bersama dan pengisian buku tamu. Selanjutnya, Jokowi melakukan perbincangan di beranda atau veranda talk.
Berbagai permasalahan dibahas dalam pertemuan ini, terutama akan ditandatanganinya pengesahan rencana aksi implementasi kemitraan Indonesia-Denmark 2017-2020, yang merupakan tindak lanjut dari kemitraan inovatif yang ditandatangani saat kunjungan Ratu Denmark, dua tahun lalu.
Kunjungan PM Denmark ke Istana Kepresidenan Bogor, menurut Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung merupakan kunjungan pertamanya ke kawasan ASEAN.
“Ini karena Indonesia dipandang sebagai negara terpenting ASEAN,” kata Pramono Anung kepada wartawan usai mendampingi Presiden Jokowi menerima kunjungan PM Denmark itu, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/11/2017).
Ia menyebutkan, dalam pertemuan tersebut beberapa kerja sama yang telah didorong, di antaranya adalah kerja sama di bidang energi, karena Denmark ini sangat terkenal denganwaste energy-nya, dan juga hampir sekarang electricity untuk kendaraan.
“Mereka itu sudah berkembang dengan sangat baik. Maka Denmark menawarkan teknologi untuk pengolahan sampah,” ungkap Pramono.
Menurut Seskab, persoalan waste energy ini di Indonesia juga sedang ditangani secara serius oleh Presiden Jokowi. Bahkan Indonesia, menurut Seskab, sudah membuat 7 (tujuh) kota untuk pilot project di antaranya adalah Jakarta, Surabaya, Medan, kemudian Solo, Semarang, Bandung, dan sebagainya.
“Nah intinya adalah kalau ini memang bisa diterapkan, persoalan environment, persoalan lingkungan tertangani, kemudian juga manfaatnya adalah energi sampah atau waste energy ini bisa termanfaatkan secara baik,“ kata Seskab seraya menambahkan persoalannya memang cost-nya masih agak tinggi dibandingkan energi lainnya.
Seskab menegaskan, ketujuh kota itu sebenarnya sudah siap melaksanakan waste energy, terutama Surabaya dan Bandung. Sedangkan Jakarta juga segera bisa dimulai.
“Daripada sampah kita yang ada di Bantargebang misalnya, itu kan sebenarnya bisa digunakan untuk energi listrik dan teknologinya sangat gampang,” pungkas Pramono.
Penulis: Yon K












