
Cirebon-SuaraNusantara
Nasi jamblang atau sega jamblang merupakan kuliner khas Kota Cirebon yang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Disebut nasi jamblang karena panganan ini berasal dari Desa Jamblang.
Nasi jamblang sebenarnya tak ubahnya nasi campur, namun ciri khasnya dibungkus dengan daun jati. Penyajian makanannya pun bersifat prasmanan.
Berbagai lauk yang disajikan bersama nasi jamblang antara lain tempe atau tahu, telur dadar, dan sambal. Tidak ada patokan khusus mengenai lauk pauk yang digunakan untuk menemani nasi jamblang. Variasi lainnya nasi jamblang bisa disajikan bersama daging, perkedel, gulai telur, cumi hitam, sate telur puyuh, semur hati, ikan asin, paru sapi.
Penggunaan daun jati sebagai bungkus nasi awalnya hanya lantaran pada zaman dulu belum ada plastik atau kertas pembungkus nasi, namun pohon jati banyak tumbuh di Desa Jamblang, dan belakangan disadari nasi yang dibungkus dengan daun jati menjadi tidak cepat basi dan rasanya lebih pulen. Hal ini karena daun jati memiliki pori-pori yang membantu nasi tetap terjaga kualitasnya meskipun disimpan dalam waktu yang lama. Sejak itu, daun jati identik dengan nasi jamblang.
Ukuran nasi jamblang terbilang kecil, hanya sekepalan tangan orang dewasa dan proses memasaknya pun sama seperti nasi putih biasa. Nasi putih yang sudah masak didinginkan terlebih dahulu selama beberapa jam, setelah itu barulah dibungkus menggunakan daun jati. Hal itu dilakukan agar nasi menjadi tahan lama dan tidak berubah warna, karena jika dibungkus dalam keadaan masih panas, akan berubah warna menjadi merah. Untuk itu, biasanya setelah nasi matang, langsung dikipas atau diangin-anginkan terlebih dahulu sampai nasi benar-benar dingin untuk selanjutnya dibungkus dengan daun jati.
Di Cirebon, terdapat banyak penjual nasi jamblang. Satu di antaranya yang paling terkenal adalah nasi Jamblang “Mang Dul” yang berlokasi di Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo No. 4, Cirebon, tepatnya di dekat perempatan lampu merah Gunung Sari. Buka dari pukul 5 pagi hingga siang. Kemudian buka lagi sore hari sekitar pukul 5 sore hingga malam.
Banyak pejabat daerah dan pejabat tinggi negara yang sering mampir di warung ini. Salah satu pelanggan setianya adalah Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Menurut pemilik nasi Jamblang “Mang Dul”, Fitri, nasi jamblangnya sering dibawa ke Cikeas oleh ajudan SBY. Fitri bercerita SBY bisa tahu jika ajudannya membeli nasi jamblang dari tempat lain.
“Kalau beli di tempat lain rasanya beda, suka tidak dimakan dan dikasih ke orang,” papar Fitri.
Karena nasi dibungkus dan disajikan dalam keadaan dingin dan semua lauknya pun disajikan dalam keadaan dingin, maka nasi jamblang bisa bertahan hingga malam. Itulah sebabnya makanan ini dapat dipesan di Cirebon dan diantar ke Jakarta. Syaratnya, nasi dan lauknya harus dibungkus secara terpisah.
Sebungkus nasi polos dihargai Rp 2.000, sedang untuk lauk pauknya dibuka dari harga Rp 1.000. Fitri adalah generasi kedua setelah Mang Dul yang menjalankan rumah makan ini. Ia menjalankan usaha berdua dengan saudaranya. Jika akhir pekan, dalam sehari Fitri bisa meraup omset sekitar Rp 20 juta.
Awal Mula Nasi Jamblang
Seorang wanita Tionghoa bernama Tan Piaw Lung atau yang dikenal sebagai Mbah Pulung, disebut sebagai orang yang menciptakan nasi jamblang. Bersama suaminya, Abdul Latif, Mbah Pulung juga menjadi orang pertama yang berjualan nasi jamblang.
Menurut Tien yang merupakan generasi kelima keturunan pasangan Abdul Latif dan Tan Piaw Lung (Mbah Pulung), awalnya kakek dan nenek buyutnya itu bersedekah dengan cara sering membagikan nasi jamblang secara gratis kepada buruh Pabrik Gula Gempol dan Pabrik Spiritus di Palimanan dan stasiun kereta api pada kurun waktu 1847 dan 1883. Karena banyak yang suka, akhirnya puluhan tahun kemudian baru terpikir untuk memulai usaha berjualan nasi tersebut.
“Mereka membagikan buat sedekah bagi rakyat pekerja pabrik gula dan spiritus juga yang membangun jalan kereta, lalu lama kelamaan akhirnya muncul keinginan agar menjual nasi jamblang ,” ujar Tien.
Bisnis nasi jamblang Mbah Pulung kemudian diteruskan oleh keturunannya. Penjualan nasi jamblang keturunan Mbah Pulung ini mencapai puncaknya pada dekade 1960-1970an, tetapi kemudian semakin merosot setelah semakin banyak orang yang bukan keturunan Mbah Pulung, tetapi ikut berjualan nasi jamblang.
Tien pun tinggal di Jakarta sejak tahun 1970-an. Baru pada 2004 lalu, setelah pensiun dari pekerjaan di Jakarta, Tien kembali terjun ke bisnis kuliner warisan nenek moyangnya ini, karena melihat perkembangan wisata di Cirebon yang semakin meningkat.
“Kami lihat banyak yang menjual nasi jamblang dan digemari wisatawan, akhirnya kami mengumpulkan saudara-saudara dan tukang masak yang dulu pernah ikut dengan keluarga kami untuk memulai membuka kembali warung nasi jamblang,” jelas Kusdiman, suami Tien.
Pasangan suami istri ini pun membuka warung nasi Jamblang Tulen di depan Pasar Jamblang Kabupaten Cirebon. Kusdiman mengatakan dia berupaya untuk mengembalikan menu-menu khas nasi jamblang warisan keluarga, yang sudah mulai jarang dijual saat ini, dan juga cara memasaknya.
“Saat kita membuat ini istilahnya filosofinya mengambalikan citra rasa tempo dulu, kita buka primbon resepnya, memang banyak yang bisnis nasi Jamblang, tapi ada menu yang tidak mereka masak lagi seperti dendeng bumbu laos, jadi kita melakukan seperti dulu, masak pun pakai kayu bakar,” kata dia.
Kusdiman enggan menyebutkan omzetnya, namun jelas dia merasa senang melihat perkembangan bisnis nasi jamblang yang kembali bergairah karena diburu wisatawan.
Kontributor: Eka/dari berbagai sumber