
Jakarta-SuaraNusantara
Potensi energi panas bumi mencapai 30 Giga Watt, namun baru lima persen energi panas bumi yang digarap pemerintah, yaitu sekitar 1.700 MW. Karena itu, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Agus Hermanto mendesak Pemerintah memprioritaskan energi baru dan terbarukan (EBT) khususnya panas bumi. Sebabnya,
“Pemerintah harus meninggalkan fuel dan batubara dengan menguatkan energi baru dan terbarukan seperti Gothermal (panas bumi), hidro dan arus laut, serta panel surya,” ujar Agus Hermanto dalam rilisnya, Kamis (10/8/2017).
Menurut Agus, panel surya sangat dibutuhkan bagi masyarakat perbatasan yang minim akses infrastruktur. Sayangnya, kata Agus, Indonesia belum memiliki riset geothermal. Maka Indonesia perlu membangun embrio pusat riset geothermal.
Terkait riset panas bumi, kata Agus, Indonesia pernah mengirim delegasi untuk belajar mengelola riset geothermal yang memiliki standar dunia. “Kita pernah mengunjungi Selandia Baru dan Iceland Geothermal (ISOR) di Islandia,” ujarnya.
Agus mengatakan kesuksesan Islandia dalam mengembangkan sumber panas bumi adalah karena didukung oleh Pusat Penelitian berkelas dunia yang bergerak di bidang energi panas bumi.
“Di Islandia, penelitian tentang panas bumi telah dimulai sejak tahun 1945 di bawah Instansi Pemerintah. Kini, Islandia Geo Survey melanjutkan Penelitiannya sebagai lembaga negara independen,” ujar Agus.
Oleh karena itu, lanjut Agus, memiliki pusat penelitian yang hebat adalah kunci untuk memperbaiki pemahaman mengenai panas bumi serta dapat menurunkan tingkat risiko dalam kegiatan eksplorasi, eksploitasi dan pemanfaatan.
Penulis: Yon K












