
Jakarta-SuaraNusantara
Indonesia segera memiliki kapasitas baja yang besar untuk mewujudkan negara mandiri dari impor baja. Dengan adanya klaster industri baja di Cilegon, Indonesia akan memproduksi 10 juta ton baja pada tahun 2025.
“Industri baja sebagai salah satu prioritas yang tengah kami kembangkan. Sektor ini sebagai mother of industry karena produknya merupakan bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri lainnya,” kata Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan, mewakili Menteri Perindustrian pada acara Steel Conference 2017 di Jakarta, Selasa (23/5/2017).
Optimisme tersebut didasarkan pada pertumbuhan ekonomi nasionalyang terusmengalami perbaikan. Badan Pusat Statistik mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I tahun 2017 sebesar 5,01 persen atau naik dibandingkan pertumbuhan kuartal I-2016 sekitar 4,92 persen. Capaian tersebut juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal IV-2016 sebesar 4,94 persen.
“Pertumbuhan ini merupakan dampak dari respon kebijakan yang tepat dari pemerintah serta rendahnya inflasi dan suku bunga yang terkendali,” ujar Putu.Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi di tahun 2017 akan lebih tinggi di kisaran 5,2-5,4 persen.
Kemenperin melihat pertumbuhan ekonomi tersebut juga menjadi sinyal baik bagi perkembangan pasar baja domesetik. “Sejalan dengan peningkatan konsumsi baja dalam negeri, pertumbuhan ekonomi akan tetap terjaga jika dengan tata niaga ekspor-impor yang baik,” imbuhnya.
Penulis: Rio












