
Jakarta-SuaraNusantara
Dunia dikejutkan dengan serangan virus komputer ransomware WannaCry. Tercatat 99 negara, termasuk Indonesia menjadi korban virus ganas tersebut. Untungnya, sebagian besar pengguna komputer rumahan relatif aman karena penyebar virus sepertinya menargetkan perusahaan atau instansi besar.
Menurut pantauan tim Kemkominfo sejak Sabtu, (13/5/2017) hingga Minggu (14/5/2017), negara yang terkena dampak paling besar dari ramsomware WannaCry adalah Inggris. Di Indonesia, RS Dharmais dan RS Harapan Kita sempat terkena serangan virus ini hingga pelayanan terhadap pasien sempat terganggu.
Serangan ini menggunakan teknik ransomware–jenis malware (malicious software)–yang berkembang cepat. Data dalam komputer yang terkena WannaCry akan terkunci atau diblokir oleh program jahat yang meminta korban untuk membayar tebusan US$ 300, dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin. Jika kunci itu ingin dibuka, makan korban harus membayar uang tebusan itu.
Bagi pengguna smartphone yang biasanya terhubung jaringan internet, sejauh ini juga relatif aman dari serangan virus tersebut, karena si penyebar virus hanya menargetkan komputer yang menjalankan Windows versi 2010 ke bawah atau sebelumnya, seperti windows XP.
“Malware ini tidak menyerang smartphone, yang saat ini terdampak serangan adalah komputer dengan sistem operasi Windows versi 2010 ke bawah atau sebelumnya,” ujar Menkominfo Rudiantara kepada awak media saat konferensi pers Antisipasi Ancaman Ransomware WannaCry di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Apalagi bila pengguna rajin meng-update sistem operasi Windows di komputer miliknya, ransomware tidak akan menyerang.
“Masyarakat tidak usah panik. Pemerintah sejak Sabtu kemarin sudah memonitor dan berkoordinasi dengan tim internasional untuk mengantisipasi hal ini (ransomware WannaCry),” kata Rudiantara.
Penulis: Yon K












