Suara Nusantara
Advertisement
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks
No Result
View All Result
  • Login
Suara Nusantara
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks
No Result
View All Result
  • Login
Suara Nusantara
Home Politik

Pelanggaran Apa yang Dapat Terjadi dalam Pilkada?

Suara Nusantara by Suara Nusantara
15 February 2017
in Politik
Reading Time: 3 mins read
A A
Foto: NURPHOTO

Foto: NURPHOTO

1
SHARES
9
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Foto: NURPHOTO

Jakarta-SuaraNusantara

Setiap pelaksanaan pemilu, baik pemilihan umum daerah, legislatif ataupun presiden biasanya rawan dengan pelanggaran ataupun kecurangan. Pelanggaran seperti apa yang harus diwaspadai dalam pelaksanaan Pilkada kali ini?

Titi Anggraini, direktur eksekutif dari Perludem (Pegiat Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi) mengatakan kemungkinan kecurangan di Pilkada DKI sebenarnya lebih kecil dibandingkan di daerah lain.

BACAJUGA

Menggali Dampak Privilege: Kunci Kesuksesan atau Hanya Mitos?

Berkah dan Petualangan, Destinasi Liburan di Bulan Ramadan yang Wajib di Kunjungi

“Pilkada DKI sekarang ini ada keuntungan juga. Dia menjadi pilkada yang paling disorot di Indonesia. Kalau orang bekerja di bawah sorotan biasanya akan bekerja lebih optimal dalam menjalankan kerjanya,” kata Titi.

Meski begitu tidak dapat dipungkiri pilkada DKI Jakarta tahun ini adalah pilkada yang paling ‘panas’ di antara daerah-daerah lain dan juga dibandingkan pilkada sebelumnya.

“Sekarang di Pilkada DKI ada tiga pasangan calon yang kalau kita elaborasi latar belakangnya mewakili tiga kepentingan politik besar yang berbeda. Bagaimana koalisi-koalisi di dalamnya menjadi koalisi yang sangat kompetitif yang memiliki kekuatan dan akarnya masing-masing”, terang Titi.

Sehingga banyak pengamat mengatakan bahwa ‘panas’nya Pilkada tahun ini dan tipisnya selisih hasil polling elektabilitas antar kandidat berpotensi menyebabkan pelanggaran hak pilih ataupun kecurangan lain dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini.

Lantas, apa saja potensi pelanggaran yang dapat terjadi?

Menurut Titi, “dari dulu, dari 2012 problem DKI Jakarta itu adalah problem DPT (Daftar Pemilih Tetap).” Berikut beberapa masalah DPT yang pernah atau dapat terjadi:

Pemilih yang tidak terdaftar di DPT

Pemilih yang tidak terdaftar di DPT biasanya menjadi enggan untuk datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) meski mereka tetap bisa datang ke TPS dengan menggunakan KTP elektronik atau surat keterangan.

“Tapi karena mereka tidak terinformasi dengan baik, mereka lebih memilih untuk tidak menggunakan hak pilih,” kata Titi.

Dan akhirnya suara mereka rentan untuk disalahgunakan.

Formulir C6 tidak disebar

Formulir C6 adalah surat pemberitahuan untuk memilih yang biasanya akan diberikan kepada warga untuk menginformasikan kepada warga tentang lokasi TPS mereka.

“Kalaupun tidak mendapatkan C6, bukan berarti kita tidak bisa memilih, sepanjang nama kita ada di DPT,” kata Titi.

Sama seperti pemilih yang tidak terdaftar di DPT, akhirnya banyak pemilih yang menjadi enggan untuk memilih dan kemudian suara mereka rentan untuk disalahgunakan

Pemilih ganda

Pemilih ganda dapat memilih lebih dari satu kali karena terdaftar di DPT lebih dari satu kali.

Salah satu kasus pemilih ganda terjadi di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat pada pemilu legislatif 2014.

Menurut UU No. 12 Tahun 2008 Pasal 115, pemilih ganda atau orang yang menggunakan identitas palsu terancam hukuman pidana penjara.

“Tahun 2004 ada yang dipidana penjara karena memilih lebih dari satu kali,” kata Titi.

‘Ghost voter’

Ada juga pemilih yang menggunakan hak pilih bukan atas nama dirinya atau menggunakan identitas orang lain untuk menggunakan hak pilih.

Kejadian yang melibatkan pemilih ganda terjadi pada Pilkada 2015 lalu, di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Ada anggota keluarga yang terdata menggunakan hak pilih bukan mengunakan data dan identitas diri mereka. Hanya dua kasus yang tervalidasi tetapi karena itu, MK memutuskan untuk memerintahkan dilakukan pemungutan suara ulang di tiga TPS di kabupaten itu.

“Karena waktu itu selisih suara sedikit sekali, hanya 34 suara,” jelas Titi.

“Kasusnya masih diproses hukum karena ketika ketahuan, kejadiannya sudah lama sedangkan di UU Pilkada kita, proses pidana atas suatu tindak kejahatan pilkada hanya bisa dilaporkan ke Bawaslu tujuh hari setelah kejadian,” tambahnya.

Selain pelanggaran terkait DPT, ada juga kecurangan yang dapat terjadi di pilkada, di antaranya:

Kecurangan logistik

Menurut Titi, ketersediaan logistik harus dihitung benar.

“Sekarang kan logistik itu hanya 2,5% dari total DPT yang ada. Jangan sampai logistik kurang,” kata Titi.

Alasan logistik ini juga yang membuat penting untuk memiliki rekap pemilih yang akan menggunakan suket (surat keterangan) di TPS.

Selain itu, pengiriman kembali logistik untuk penghitungan kembali juga rentan dicurangi.

Pada 2015 di Pilkada Halmahera Utara, Kecamatan Loloda Kepulauan, logistik hasil pilkada hilang.

Pada 2016, surat suara di 20 TPS di Halmahera Selatan juga hilang.

Praktik politik uang

Hampir semua perkara di Mahkamah Konstitusi masih seputar praktik politik uang.

Pada 2010 di Pilkada Kota Tangerang Selatan, MK sampai memerintahkan pemilihan ulang di seluruh TPS karena ada praktik politik uang.

Di tahun yang sama di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Titi menceritakan bahwa ada setengah dari jumlah DPT di sana yang menjadi tim sukses salah satu pasangan calon. Mereka kemudian diberikan sertifikat untuk mendapatkan kompensasi sejumlah uang hingga sejumlah ratusan ribu rupiah.

“Itu sampai calonnya didiskualifikasi oleh MK,” kisah Titi.

Selain itu, dalam pilkada serentak kali ini, Titi dan timnya pun masih melihat banyak politik uang yang beredar khususnya di media sosial.

“Di Aceh ditemukan foto-foto yang disebarkan melalui media sosial, amplop berisi uang dan stiker salah satu pasangan calon. Tapi kalau di media sosial kita harus konfirmasi dan klarifikasi,” kata Titi.

Petugas yang tidak netral

Netralitas petugas penyelenggara pilkada terutama dalam level TPS sangat penting untuk mengantisipasi kecurangan.

Titi menuturkan bahwa dalam pilkada serentak kali ini ada empat KPPS di DKI Jakarta yang dipecat karena ikut kampanye.

“Kalau ini saja mereka berani terang-terangan, bagaimana proses di pemilihan?”

Di Kabupaten Sarolangun, Jambi, ada lima KPPS yang dipecat karena tidak netral. Dan dii Tasikmalaya ada 44 petugas yang dipecat, 14 diantaranya adalah petugas KPPS.

Untuk meminimalisir pelanggaran dan kecurangan pilkada tersebut, maka masyarakat juga diharapkan dapat berperan aktif mengawasi pelaksanaan pemilu dan perhitungan hasil rekapitulasi.

Warga juga dapat mengambil foto hasil suara di formulir C1 dan menggunggahnya ke media sosial atau ke aplikasi-aplikasi pemantau suara yang ada. (Mehulika Sitepu/BBC Indonesia)

 

Author

  • Suara Nusantara
    Suara Nusantara

    View all posts

ADVERTISEMENT

BERITA Lainnya

Rekapitulasi Perhitungan Suara KPU Lebak, Prabowo – Gibran Menang di Semua Kecamatan
Politik

Rekapitulasi Perhitungan Suara KPU Lebak, Prabowo – Gibran Menang di Semua Kecamatan

by Defa
4 March 2024

SuaraNusantara.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lebak Provinsi...

KPU Bantah Suara PSI Naik, Idham Holik: Ada Kesalahan
Nasional

KPU Bantah Suara PSI Naik, Idham Holik: Ada Kesalahan

by Fifi
4 March 2024

Suaranusantara.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia (RI)...

Kaesang Putra Jokowi / IG Kaesang

Bantah Lakukan Curang, PSI: Kehadiran Kaesang Alasan Suara Naik

4 March 2024
Kenaikan Suara PSI Janggal, Anies:  Pemerintah Harus Bertanggungjawab

Kenaikan Suara PSI Janggal, Anies: Pemerintah Harus Bertanggungjawab

4 March 2024
Dari Impian Menuju Realitas: Kisah Cemerlang Sejarah Pemilihan Umum di Indonesia

KPU Rilis Data Real Count: PDIP Memimpin, PSI Mencuri Perhatian

2 March 2024
Kaesang Pangarep

Kenaikan Drastis Suara PSI dalam Real Count Pemilu 2024: Perlu Penelusuran Lebih Lanjut

2 March 2024

POPULER MINGGU INI

No Content Available

TOPIK: PEMILU 2024

Gerakan Rakyat Banten Dukung DPR Pakai Hak Angket Usut Dugaan Kecurangan Pemilu

Real Count KPU Pileg DPRD Banten 32,44% : Gerindra 12,59%, PDIP 12,12%

Jokowi: Jangan Teriak Curang, Ada Mekanisme ke Bawaslu dan MK

Kelelahan, 9 Anggota KPPS dan Panwas Pemilu di Lebak Dirawat

Usai Unggul Suara Di Quick Count, Gibran Ingin Segera Sowan ke Paslon 1 dan 3

PILIHAN EDITOR

Viral Modus Kecurangan Pemilu, PSI Gunakan Suara Tidak Sah Menjadi Suara Sah di Banten!

Hadiri Kampanye Akbar di Bandung, Megawati Ingatkan TNI Polri Netral pada Pemilu 2024

Ribuan Kader PDIP Hadiri Kampanye Akbar Ganjar di Sidoarjo, Begini Kata Said Abduallah

Adanya Dugaan Skenario Hitam Untuk Jegal Prabowo-Gibran, TKN: Elektabilitas 02 Buat Sebagian Orang Frustasi

Debat Capres 2024, Anies Baswedan: Anggaran Pertahanan Rp 700 Triliun Tak Efektif

BERITA TERKINI

Ilustrasi beras (freepik)
Lifestyle

Harga Beras Melonjak, Inilah Pilihan Pengganti Nasi yang Terjangkau

by Feri Spt
5 March 2024

Suaranusantara.com - Harga beras yang semakin melambung tinggi belakangan ini membuat sebagian besar masyarakat merasa khawatir. Namun, jangan...

Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Suara PSI yang Tiba-Tiba Naik Disorot Media Asing

5 March 2024
Galaxy S24 Ultra vs iPhone 15 Pro Max, Yuk Cek Mana Lebih Unggul

Galaxy S24 Ultra vs iPhone 15 Pro Max, Yuk Cek Mana Lebih Unggul

5 March 2024
Kisah Tragis Turis Perempuan Diperkosa di India saat Berpetualang dengan Sepeda Motor bareng suaminya

Kisah Tragis Turis Perempuan Diperkosa di India saat Berpetualang dengan Sepeda Motor bareng suaminya

5 March 2024
5 Sosok Penguasa Tambang Batu Bara yang terkaya di Indonesia,

5 Sosok Penguasa Tambang Batu Bara yang terkaya di Indonesia,

5 March 2024
Load More

Subscribe to our newsletter

Footer-Suara-Nusantara-Logo

SuaraNusantara.com menerapkan jurnalisme sesuai kaidah jurnalistik dan asas kemanusiaan agar berita disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga mampu membangkitkan optimisme dan perilaku positif para pembaca.

  • Disclaimer
  • Karier
  • Kode Etik
  • Info Iklan
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
  • UU Pers

PLATFORM LAINNYA

  • marinus gea
  • storia studio
  • marinus-gea-logo
  • morege

IKUTI KAMI

© 2022 Suara Nusantara. All rights reserved.

    Digital Solutions by Tjuanmuda

No Result
View All Result
  • Login
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks

SuaraNusantara.com menerapkan jurnalisme sesuai kaidah jurnalistik dan asas kemanusiaan agar berita disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga mampu membangkitkan optimisme dan perilaku positif para pembaca.

© 2022 SuaraNusantara.com

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In