Jakarta-SuaraNusantara
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, sebagian besar kerusakan rumah dan bangunan akibat gempa di Lebak, Banten, Selasa (23/1/2018) kemarin diakibatkan minimnya konstruksi menahan gempa.
Menurutnya, konstruksi bangunan tahan gempa adalah kebutuhan yang mutlak di wilayah Indonesia, khusus di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua.
“Namun kenyataannya masih sangat minim rumah dan bangunan yang dibangun secara khusus mampu menahan gempa,” kata Sutopo, di Jakarta, Rabu (24/1/2018).
Akibat minimnya konstruksi bangunan tahan gempa, maka setiap kali terjadi gempa dengan kekuatan cukup besar, maka banyak terjadi kerusakan parah pada bangunan banyak, bahkan sampai memakan korban jiwa.
“Korban jiwa bukan karena gempanya, tapi karena bangunanya. Bangunan yang tidak kuat lalu roboh dan menimpa penghuninya. Gempa adalah keniscayaan. Dalam setahun rata-rata kejadian gempa di Indonesia mencapai 6.000 kali gempa,” kata Sutopo.
Dia berharap masayarakat mau meningkatkan kewaspadaan menghadapi gempa. “Tata ruang, building code, kesiapsiagaan, dan lainnnya harus ditingkatkan agar kita tidak selalu siap menghadapi kondisi yang terburuk,” katanya.
Penulis: Yon K












