Jakarta-SuaraNusantara
Bulan Januari dan Februari merupakan puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Namun selama Januari 2018 ini curah hujan diprediksi justru mengalami penurunan.
“Adanya gangguan atmosfer juga pengaruh global lain menyebabkan hujan selama Januari ini curah hujannya lebih rendah daripada normalnya sehingga bencana banjir dan longsor juga berkurang,” kata Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia, Sutopo Purwo Nugroho, Sabtu (20/1/2018).
Namun, sambung Sutopo, BMKG memperkirakan mulai pekan ini hingga ke depan, curah hujan, angin kencang dan gelombang tinggi akan meningkat, dan berpotensi menimbulkan bencana.
Wilayah berpotensi hujan sedang hingga lebat adalah Kep. Riau, Riau, Sumatera Selatan,Lampung, sebagian besar Pesisir Selatan Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua.
Sementara angin kencang berpotensi terjadi di wilayah Banten, Jakarta, Pesisir Utara Jawa, Laut Jawa, Sulawesi Selatan, Pesisir Selatan Kalimantan Tengah dan Selatan, Laut Banda, Laut Arafuru.
Untuk gelombang laut dengan tinggi 2,5 -meter hingga 4,0 meter terdapat di Perairan Enggano, Perairan Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, Perairan selatan Jawa, Selat Bali bagian Selatan, Samudera Hindia Barat Kep. Mentawai – Selatan Lombok, Laut Jawa bagian Tengah dan Laut Arafuru.
Kondisi ini cukup berbahaya bagi kapal nelayan dan juga bagi masyarakat pesisir antara lain di wilayah Pelabuhan Ratu, Pantai Pangandaran, Pantai Cilacap, Parang Tritis, Pantai Pacitan, Pantai Selatan Banyuwangi. Gelombang tinggi di wilayah pesisir selatan Jawa cenderung meningkat pada sore hingga malam hari.
“Masyarakat diimbau agar waspada dan berhati hati akan dampak peningkatan potensi hujan mulai pertengahan Januari 2018, diperkirakan potensi banjir, longsor, genangan, banjir bandang dan pohon tumbang juga turut meningkat,” ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R. Prabowo, Sabtu (20/1/2018).
Menurutnya, penyebab cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari ini diakibatkan adanya pusat tekanan rendah di utara Australia dan sirkulasi siklonik di beberapa perairan, seperti yang terjadi di Aceh dan Kalimantan Barat.
Penulis: Askur












