Suara Nusantara
Advertisement
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks
No Result
View All Result
  • Login
Suara Nusantara
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks
No Result
View All Result
  • Login
Suara Nusantara
Home Nasional

Lebih Baik “Diahokkan” Daripada “Dianieskan”

Suara Nusantara by Suara Nusantara
11 May 2017
in Nasional
Reading Time: 4 mins read
A A
1
SHARES
9
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

“Diahokkan” kini jadi istilah baru. Artinya yaitu sebuah proses penjatuhan karir, reputasi, dan martabat seseorang melalui gerakan atau mobilisasi massa yang masif-intensif dengan cara-cara kotor dan keji serta tidak mengenal aturan dan norma hukum yang berlaku serta tata-krama berpolitik yang beradab.

Istilah “diahokkan” ini tentu saja merujuk pada sosok yang bernama Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) yang menjadi lakon dan pemeran utama drama sosial bergenre action comedy ini. Tidak bisa dipungkiri, Ahok memang menjadi korban permainan sejumlah elite politik, elite bisnis, dan elite agama yang merasa dirugikan dengan kehadiran Ahok.

Bagi sebagian kaum elite ini, Ahok dianggap sebagai musuh bersama, momok, dan mimpi buruk yang dapat menghalangi jalan terang dunia kekuasaan, perbisnisan, dan keagamaan yang mereka impikan, khayalkan dan idamkan. Bagi mereka, Ahok adalah duri yang harus dicabut. Oleh mereka, Ahok dianggap sebagai “kanker ganas” yang berpotensi menggerogoti tubuh-tubuh politik kekuasaan, iklim perdagangan, serta wacana dan praktek keagamaan yang mereka idealkan. Oleh karena itu, sebelum “kanker” ini menjalar kemana-mana, ia harus “dikemo” terus-menerus, harus dibersihkan, harus dijegal, harus dijungkalkan, harus dihancurkan sampai binasa.

BACAJUGA

Menggali Dampak Privilege: Kunci Kesuksesan atau Hanya Mitos?

Berkah dan Petualangan, Destinasi Liburan di Bulan Ramadan yang Wajib di Kunjungi

Maka demikianlah, Ahok diserbu dari berbagai penjuru. Ahok dikepung dari berbagai arah. Berbagai elemen masyarakat yang merasa dirugikan oleh berbagai kebijakan politik-ekonomi Ahok (atau bahkan Presiden Joko Widodo) bersatu padu mengikuti irama gendang yang dimainkan oleh segelintir elite politik, bisnis, dan agama tadi. Para koruptor, preman, pedagang pasar, makelar, dai, ustad, khatib, pengurus masjid, dan jamaah pengajian semua bergerak maju ke “medan perang” melawan Ahok.

Berbagai ormas Islam, meskipun sebetulnya mereka berbeda pandangan keagamaan, mazhab pemikiran, platform, dan tujuan organisasi, juga bersatu padu menjegal Ahok. Tujuan mereka tentu saja agar Jakarta tidak dipimpin oleh, menurut mereka, “gubernur kafir dan penista agama” (baca, Islam).

Kini dapat momentum

Gerakan massa untuk menyingkirkan Ahok dari kursi gubernuran itu sebetulnya sudah dilakukan cukup lama tetapi selalu gagal karena belum mendapatkan “momentum” yang pas. Bahkan mereka sempat mendeklarasikan “gubernur tandingan” bernama Fahrurrozi Ishaq yang “dilantik” pada bulan Desember 2014 oleh Front Pembela Islam dan Gerakan Masyarakat Jakarta.

Bukannya mendapat sambutan luas, gubernur tandingan ini malah menjadi bahan ejekan dan tertawaan masyarakat. Maka, begitu “momentum” itu tiba, yaitu “kasus Al-Maidah” di Pulau Seribu, maka segera digemakan oleh berbagai kelompok kepentingan tadi sebagai sarana atau jalan untuk menumbangkan Ahok.

Padahal jelas, dalam pidato itu, Ahok tidak melakukan “penistaan agama” seperti yang mereka tuduhkan. Tetapi elite dan massa yang sudah bernafsu untuk menyingkirkan Ahok, tidak memperdulikan semua itu. Kepalsuan dianggap sebagai realitas. Hoax dianggap sebagai fakta. Dusta dianggap sebagai kebenaran. Fantasi dianggap sebagai nyata.

Maka demikianlah, karena mendapat tekanan kuat elite dan massa, hakim pun tak berdaya memutuskan Ahok bersalah karena menurutnya ia telah melakukan “penodaan agama” dan “meresahkan masyarakat”. Padahal, publik tahu, hati-nurani tahu, semua itu hanyalah akal-akalan belaka. Hakim dalam hal ini telah mengabaikan bukti-bukti otentik dan data akademik-ilmiah yang dipaparkan oleh para saksi ahli dari berbagai profesi yang dihadirkan selama persidangan berlangsung. Keputusan hakim atas kasus Ahok itu lebih tepat disebut sebagai “keputusan politik” ketimbang “keputusan hukum”.

Kasus Ahok ini persis seperti yang menimpa almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang digulingkan oleh “sindikat elite” yang bersinergi dengan kekuataan massa. Pelengseran Gus Dur itu bermula dari “kasus fiktif” bernama “Buloggate” yang kemudian menjadi “bola panas” dan dijadikan sebagai senjata oleh lawan-lawan politik Gus Dur untuk mendelegitimasi otoritas kekuasaanya. Karena kekisruhan elite politik, khususnya anggota parlemen, tidak terbendung dan tidak bisa didamaikan, maka ia pun akhirnya mengeluarkan Dekrit Presiden untuk membubarkan DPR/MPR RI seperti yang dulu pernah dilakukan oleh Presiden Soekarno.

Sayang, pimpinan TNI waktu itu “tidak patuh” kepada presiden untuk mengamankan dekrit sehingga tidak efektif. Tiadanya dukungan elite TNI itu bisa jadi karena Gus Dur dulu banyak melakukan kebijakan “demiliterisasi” yang merugikan kelompok militer. Merasa mendapat angin, DPR/MPR pun tidak memperdulikan dekrit itu dan malah balik menyerang, mendelegitimasi dan memakzulkan Gus Dur melalui gerakan politik di parlemen. Demikianlah Greg Barton telah merekam dengan baik detik-detik pelengseran Gus Dur itu dalam bukunya Gus Dur: The Authorized Bioghraphy of Abdurrahman Wahid.

Seperti Gus Dur pula, Ahok juga menjadi sasaran sumpah-serapah. Jika Ahok “dicina-kafirkan”, maka Gus Dur di “disyiah-liberalkan” bahkan dicaci-maki sebagai “presiden buta”. Ahok juga menjadi korban politik rasisme dan etnosentrisme yang menjijikkan. Naifnya, banyak para elite politik yang diam-membisu membiarkan semua itu terjadi, membiarkan para mafia dan kaum rasis itu merobek-robek sendi-sendi kebangsaan hanya karena mereka “mengamini” tersingkirnya Ahok. Sungguh tragis dan memalukan.

Jakarta-lah yang sebenarnya kalah?

Bagi saya, lebih baik “diahokkan” ketimbang “dianieskan”. Ahok kalah dengan cara terhormat dan bermartabat. Bahkan sebetulnya Ahok tidak kalah. Jakarta-lah yang sebenarnya kalah. Bukan Ahok, melainkan Jakarta yang seharusnya rugi dan kehilangan sosok pemimpin yang kredibel, kapabel, tidak korup, dan berintegritas.

Istilah “dianieskan” yang dimaksud di sini adalah proses pendukungan karir politik kekuasaan seseorang melalui gerakan pemolesan kesalehan yang masif-intensif tetapi sebetulnya kamuflase dan penuh hipokrisi serta melalui jalan-jalan kotor penuh intrik dan manipulasi, politik rasisme, dan cara-cara etnosentris untuk menggapai kekuasaan itu.

Tentu saja harus saya tegaskan di sini bahwa tidak semua pendukung Anies dalam Pilkada waktu lalu itu menggunakan cara-cara kampanye dan propaganda yang kotor. Banyak para pendukung Anies-Sandi yang memakai cara-cara intelektualis-akademis yang sangat baik dan mendidik publik. Mereka lebih cocok ke Anies karena merasa kebijakan politik-ekonomi Ahok dinilai kurang pas untuk Jakarta ke depan.

Sayangnya, tidak semua kelompok dan elite itu “waras” dalam berpolitik. Bagi para pejuang sejati yang masih waras, bukan hanya tujuan yang penting, cara atau medium untuk mencapai tujuan itu juga penting. Tetapi bagi para pecundang tulen yang tidak waras, demi mencapai kekuasaan itu, jalan-jalan kotor yang penuh bau busuk itu pun dianggap bersih dan bau wangi karena buat mereka, “politik adalah kotor” dan sudah seharusnya digapai dengan cara-cara kotor.

Bagi para pecundang ini, tujuan adalah segalanya, meskipun dilakukan dengan cara-cara manipulatif, keji dan biadap. Bagi mereka, aneka jalan haram itu halal ditempuh yang penting ambisi dan kepentingannya serta kelompoknya bisa tercapai, meskipun harus menghancurkan sendi-sendi kebangsaan dan mengorbankan kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Contoh nyata mengenai hal ini adalah penggunaan masjid-mushala secara masif-intensif sebagai ajang kampanye untuk mendukung paslon Anies-Sandi dan propaganda hitam anti-Ahok. Padahal mestinya masjid dan mushala harus bersih dan netral dari kepentingan politik praktis.

Eep Saifuloh Fatah, penasehat politik Anies-Sandi, adalah figur yang disinyalir paling bertanggung jawab dalam hal ini karena dialah yang memberi “sinyal” dan “lampu hijau” kepada tim Anies-Sandi untuk menggunakan masjid sebagai medium kampanye dan propaganda lantaran “kesengsem” dengan keberhasilan partai Front Islamique du Salut (al-Jabhah al-Islamiyyah li al-Inqadh atau Islamic Salvation Front), sebuah partai Islamis radikal di Aljazair yang didirikan oleh Abbasi Madani dan Ali Belhadj yang sukses memenangkan Pemilu pada awal 1990-an karena menggunakan masjid sebagai instrumen kampanye dan propaganda untuk meraih dukungan pemilih. Partai ini sudah dibekukan, dan banyak anggota dan simpatisannya yang terlibat di berbagai jaringan radikalisme dan terorisme global. Tentang kelompok ini, simak studi Norman Larson, Islamic Resurgence in Algeria: The Rise of the Islamic Salvation Front.

Contoh lain tentu saja adalah berbagai “teror teologis” kepada masyarakat Muslim awam seperti ancaman masuk neraka kalau memilih Ahok atau tidak disalati / diurus jenazah yang semasa hidupnya (atau bahkan keluarganya) mendukung Ahok. Bahkan ancamam Jakarta akan kembali rusuh seperti tragedi “kerusuhan anti-Cina” tahun 1998, jika Ahok menang dalam Pilkada.

Semua itu adalah cara-cara berpolitik yang kotor, manipulatif, rasis, dan etnosentris yang seharusnya dihindari oleh semua pihak jika ingin membangun masa depan Indonesia yang lebih baik, bukan malah digemakan dan “dimasyarakatkan”.

Pelajaran buat semua warga

Akhirul kalam, semoga pertunjukan sandiwara Pilkada Jakarta bisa menjadi pelajaran buat semua warga dan lapisan masyarakat di seantero Tanah Air. Tentu saja buat mereka yang bersedia belajar dari pengalaman buruk masa lalu karena banyak juga manusia yang tidak mau belajar dari pengalaman pahit masa silam. Sebagai sebuah bangsa dan negara, Indonesia sudah beberapa kali menyajikan tontonan drama politik yang memuakkan dan menjijikkan penuh rasisme dan etnosentrisme, baik di tingkat nasional maupun lokal, yang memakan korban sesama anak-bangsa yang sudah tak terhitung jumlahnya. Gerakan G 30 S tahun 1965/6, tragedi Mei 1998, dan berbagai konflik kekerasan di Maluku, Poso, Sampit, dlsb, semua itu adalah bagian dari sejarah gelap di Indonesia yang semestinya bisa menjadi pelajaran berharga.

Tetapi sayangnya banyak yang tidak mau belajar dari peristiwa masa lampau atau mungkin menderita penyakit amnesia atau mungkin pura-pura pikun dan rabun sehingga selalu saja “drama sosial” yang buruk, kotor, kejam, rasis, etnosentris, dan biadab itu selalu terulang lagi dan lagi. Bukannya menyesali dan meratapi atas pertunjukan drama politik yang kotor dan culas, sejumlah kelompok bahkan tertawa riang-gembira menikmatinya dan merayakannya dengan berpesta-pora karena merasa berhasil menumbangkan rival politiknya dengan cara-cara nista. Sungguh sebuah ironi dan kemunduran sejarah yang luar biasa.

Penulis: Sumanto Al Qurtuby (ap/yf/dw)

*Penulis merupakan dosen Antropologi Budaya dan Direktur Scientific Research in Social Sciences, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, serta Senior Scholar di National University of Singapore. Ia memperoleh gelar doktor dari Boston University dan pernah mendapat visiting fellowship dari University of Oxford, University of Notre Dame, dan Kyoto University. Ia telah menulis ratusan artikel ilmiah dan puluhan buku, antara lain Religious Violence and Conciliation in Indonesia (London & New York: Routledge, 2016)

**Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis/tidak mewakili kebijakan redaksi

 

Author

  • Suara Nusantara
    Suara Nusantara

    View all posts

ADVERTISEMENT

BERITA Lainnya

Windy Idol dan Hasbi Hasan Didakwa Terima Suap dan Gratifikasi
Nasional

Windy Idol dan Hasbi Hasan Didakwa Terima Suap dan Gratifikasi

by Doroti Krisley L
5 March 2024

Suaranusantara.com - Perkembangan kasus korupsi yang melibatkan Hasbi Hasan,mengalami perkembangan....

Cara Bayar Utang Puasa Ramadhan Jika Lupa Jumlah Hari yang Tinggal, Simak Penjelasan Berikut
Nasional

Amalan Ramadhan yang Membawa Pahala Besar: Sedekah dan Mengaji Al-Quran

by Doroti Krisley L
5 March 2024

Suaranusantara.com - Bulan Ramadhan, bulan suci bagi umat Islam,...

Update Harga Sembako Jelang Ramadhan 2024

Update Harga Sembako Jelang Ramadhan 2024

5 March 2024
Masa aksi melakukan pembakaran ban di depan gedung DPR RI

Jokowi Diserukan untuk Dimakzulkan oleh Masa Aksi di Depan Gedung DPR RI

5 March 2024
Aksi bakar ban oleh massa aksi di DPR RI (Dok ist)

Massa Bakar Ban di Gedung DPR, Minta Kejelasan Hak Angket Terkait Dugaan Kecurangan Pemilu

5 March 2024
Ingin Akhiri Kecurigaan, 3 Fraksi DPR RI Usulkan Hak Angket Kecurangan Pemilu 2024

Ingin Akhiri Kecurigaan, 3 Fraksi DPR RI Usulkan Hak Angket Kecurangan Pemilu 2024

5 March 2024

POPULER MINGGU INI

No Content Available

TOPIK: PEMILU 2024

Rekapitulasi Perhitungan Suara KPU Lebak, Prabowo – Gibran Menang di Semua Kecamatan

Gerakan Rakyat Banten Dukung DPR Pakai Hak Angket Usut Dugaan Kecurangan Pemilu

Real Count KPU Pileg DPRD Banten 32,44% : Gerindra 12,59%, PDIP 12,12%

Jokowi: Jangan Teriak Curang, Ada Mekanisme ke Bawaslu dan MK

Kelelahan, 9 Anggota KPPS dan Panwas Pemilu di Lebak Dirawat

PILIHAN EDITOR

Viral Modus Kecurangan Pemilu, PSI Gunakan Suara Tidak Sah Menjadi Suara Sah di Banten!

Hadiri Kampanye Akbar di Bandung, Megawati Ingatkan TNI Polri Netral pada Pemilu 2024

Ribuan Kader PDIP Hadiri Kampanye Akbar Ganjar di Sidoarjo, Begini Kata Said Abduallah

Adanya Dugaan Skenario Hitam Untuk Jegal Prabowo-Gibran, TKN: Elektabilitas 02 Buat Sebagian Orang Frustasi

Debat Capres 2024, Anies Baswedan: Anggaran Pertahanan Rp 700 Triliun Tak Efektif

BERITA TERKINI

Ilustrasi beras (freepik)
Lifestyle

Harga Beras Melonjak, Inilah Pilihan Pengganti Nasi yang Terjangkau

by Feri Spt
5 March 2024

Suaranusantara.com - Harga beras yang semakin melambung tinggi belakangan ini membuat sebagian besar masyarakat merasa khawatir. Namun, jangan...

Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Suara PSI yang Tiba-Tiba Naik Disorot Media Asing

5 March 2024
Galaxy S24 Ultra vs iPhone 15 Pro Max, Yuk Cek Mana Lebih Unggul

Galaxy S24 Ultra vs iPhone 15 Pro Max, Yuk Cek Mana Lebih Unggul

5 March 2024
Kisah Tragis Turis Perempuan Diperkosa di India saat Berpetualang dengan Sepeda Motor bareng suaminya

Kisah Tragis Turis Perempuan Diperkosa di India saat Berpetualang dengan Sepeda Motor bareng suaminya

5 March 2024
5 Sosok Penguasa Tambang Batu Bara yang terkaya di Indonesia,

5 Sosok Penguasa Tambang Batu Bara yang terkaya di Indonesia,

5 March 2024
Load More

Subscribe to our newsletter

Footer-Suara-Nusantara-Logo

SuaraNusantara.com menerapkan jurnalisme sesuai kaidah jurnalistik dan asas kemanusiaan agar berita disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga mampu membangkitkan optimisme dan perilaku positif para pembaca.

  • Disclaimer
  • Karier
  • Kode Etik
  • Info Iklan
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
  • UU Pers

PLATFORM LAINNYA

  • marinus gea
  • storia studio
  • marinus-gea-logo
  • morege

IKUTI KAMI

© 2022 Suara Nusantara. All rights reserved.

    Digital Solutions by Tjuanmuda

No Result
View All Result
  • Login
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks

SuaraNusantara.com menerapkan jurnalisme sesuai kaidah jurnalistik dan asas kemanusiaan agar berita disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga mampu membangkitkan optimisme dan perilaku positif para pembaca.

© 2022 SuaraNusantara.com

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In