Suaranusantara.com – Uni Eropa (UE) menekankan pentingnya solusi dua negara untuk mengakhiri konflik antara Israel dan Palestina, khususnya setelah perang di Jalur Gaza yang menewaskan ratusan orang.
UE juga mengkritik sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menolak gagasan pembentukan negara Palestina.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Josep Borrell, dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, dan Menteri Urusan Luar Negeri Otoritas Palestina, Riyad al-Maliki, pada Senin (22/1/2024). Pertemuan tersebut merupakan upaya UE untuk memediasi dialog antara kedua belah pihak yang bertikai.
“Apa yang ingin kami lakukan adalah membangun solusi dua negara. Jadi mari kita bicarakan hal itu,” kata Borrell, seperti dikutip dari AFP.
Borrell menegaskan bahwa perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah tidak bisa dicapai hanya dengan cara militer.
Dia menanyakan rencana Israel untuk menyelesaikan masalah dengan warga Palestina yang tinggal di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
“Solusi apa lagi yang mereka pikirkan? Membuat semua warga Palestina pergi? Membunuh mereka?” tanya Borrell.
Borrell juga mengulangi kecaman dari PBB atas penolakan Netanyahu terhadap seruan pembentukan negara Palestina setelah perang di Gaza.
Netanyahu mengatakan bahwa Israel tidak akan pernah setuju dengan solusi dua negara yang dianggapnya sebagai ancaman bagi keamanan dan eksistensi Israel.
Perang di Gaza yang berlangsung selama 11 hari pada Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 250 orang, sebagian besar di pihak Palestina.
Perang tersebut dihentikan oleh gencatan senjata yang ditengahi oleh Mesir, tetapi belum ada kesepakatan politik yang mengakhiri konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina.
UE, yang merupakan salah satu donor terbesar bagi Palestina, berharap dapat memainkan peran lebih aktif dalam mencari solusi damai untuk konflik tersebut.
UE juga berjanji akan memberikan bantuan kemanusiaan dan pembangunan untuk Jalur Gaza yang hancur akibat serangan Israel.
