Suaranusantara.com – Wacana Koalisi besar untuk Pemilu 2024 yang merupakan gabungan dari lima partai koalisi pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) semakin menjadi sorotan pasca PDI Perjuangan (PDIP) mengajukan syarat jatah calon presiden (capres).
Sejatinya, PDI Perjuangan merupakan satu-satunya partai politik yang memiliki tiket untuk mengusung pasangan capres dan cawapres tanpa harus berkoalisi.
Meski begitu, PDI Perjuangan tidak menutup kemungkinan untuk bergabung dengan koalisi besar yang terdiri dari partai Gerindra, Golkar, PPP, PAN, dan PKB.
Pengamat politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo Jati mengatakan bahwa sejauh ini PDI Perjuangan terlihat masih menerapkan ciri khasnya, yaitu menentukan sikap politik di detik-detik akhir menjelang pelaksanaan Pemilu Presiden seperti tahun 2014 dan 2019 silam.
“Kalau kita melihat PDI Perjuangan ini kan selalu dilihat pergerakannya di detik menit akhir jelang Pilpres atau Pemilu dibandingkan dengan partai lain yang sudah bergerak sebelumnya, di mana mereka (PDI Perjuangan) selalu menampilkan kejutan diakhir,” kata Wasisto,(12/4/2023).
Sementara itu Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an menyampaikan bahwa tidak dapat dipungkiri satu-satunya partai yang memiliki ‘boarding pass’ untuk bisa mengusung calonnya sendiri untuk Pemilu 2024 adalah PDI Perjuangan.
“PDI Perjuangan terlihat lebih tenang dibanding partai-partai lain, yang bermanuver sedemikian rupa karena harus berkoalisi, sementara PDI Perjuangan sudah cukup boarding pass nya,” paparnya.
Ali juga berpendapat bahwa munculnya koalisi besar adalah strategi dari Jokowi supaya Ganjar diusung oleh PDI Perjuangan sebagai capres di Pemilu 2024 mendatang. Kemudian, Prabowo akan diusung oleh koalisi besar.
Ini tidak lepas dari keinginan Jokowi agar presiden mendatang dapat meneruskan kebijakan yang telah diambilnya selama menjabat. Ganjar dan Prabowo dinilai sebagai sosok yang paling pas untuk meneruskan “pekerjaan” Jokowi.
“Rezim ini agak berbeda dengan rezim SBY yang tidak begitu ikut campur dalam urusan capres. Jokowi sangat berkepentingan, karena agenda utamanya adalah bagaimana warisannya seperti IKN dilanjutkan, makanya ada istilah ‘all Jokowi’s men’ dan hari ini ‘all Jokowi’s men’ itu merujuk kepada kedua capres Ganjar dan Prabowo,” jelasnya.
Ali juga berpendapat bahwa Jokowi ingin menyampaikan pesan dirinya adalah penentu bandul sosok capres di Pilpres 2024. Hal ini terlihat dari upaya Jokowi yang tak hanya mengkonsolidasi para elit partai, namun juga relawan.
“Kan harusnya agak aneh karena beliau tidak lagi bisa maju sebagai capres tapi relawanpun dikonsolidasi, jadi pesan yang dikirim kepada elit politik dan publik secara umum adalah Jokowi itu orang berpengaruh,”ujarnya.(ADT)













Discussion about this post