Puluhan Produk Olahan Pangan Ilegal di Tangerang Disita Loka POM

Loka POM Tangerang sita puluhan produk olahan pangan ilegal.(don)

Kabupaten Tangerang – Puluhan produk olahan pangan ilegal di Pasar Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang disita Loka POM saat melakukan sidak pengawasan terhadap produk pangan, Kamis (16/5/2019).

Kepala Loka POM Kabupaten Tangerang Widya Savitri mengatakan, 14 produk yang disita merupakan produk yang tidak memiliki izin edar (TIE), dan 14 produk lainnya tidak memiliki ketentuan (TMK) label produk. Selain di pasar tradisional, pihaknya juga menemukan 36 produk TIE di ritel kawasan elit Gading Serpong.

“Jika ditotal, produk yang disita senilai Rp39,9 juta lebih, dan kami juga mengambil 22 item sample produk di Pasar Tradisional Kelapa Dua untuk dilakukan tes uji laboratorium. Hasilnya, terdapat satu produk yang positif mengandung Rhodamin B pada produk kue mangkok,” ungkap Widya.

Atas temuan tersebut, Loka POM memberikan peringatan dan pembinaan kepada para pedagang yang menjual produk tak sesuai standar tersebut.

“Untuk pedagangnya di pasar tradisional kami beri pembinaan untuk tidak menjual pangan yang mengandung bahan berbahaya. Pembinaan selanjutnya akan dilakukan oleh Pemkab Tangerang dan akan menelusuri sumber pembelian pangan tersebut,” ujarnya.

Nantinya, jika pedagang pada sidak berikutnya ditemukan jenis pelanggaran yang sama, maka akan diberikan sanksi tegas untuk memberi efek jera.

“Sanksi akan kami berikan kepada para pedagang yang membandel, karena mereka sudah kami beritahu dan dibina tetapi masih menjual olahan pangan tersebut, maka sanksi tegas akan dilakukan,” katanya.

Widya mengimbau kepada para pedagang, pelaku usaha produksi dan penjual olahan pangan untuk selalu menjual produk yang sesuai standar ketentuan yang berlaku.

“Pangan diduga mengandung bahan berbahaya terkadang penjual tidak mengerti, karena biasanya diambil dari produksi rumahan. Tetapi kalau produk TIE dan TMK label banyak juga yang tidak mengerti terutama di ritel dan pasar tradisional, namun di ritel modern (swalayan dan supermarket) umumnya sudah mengetahui tetapi kurang peduli karena item yang dijual sangat banyak,” paparnya.(don/and)

Exit mobile version