Kota Tangerang – Warga Kota Tangerang tak perlu lagi kesulitan mencari kompos jika memiliki kebun ataupun tanaman.
Pasalnya, Unit Pelayanan Teknis (UPT) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Kota Tangerang mengolah 15 ton sampah organik setiap harinya. Belasan ton sampah organik tersebut untuk dijadikan kompos alami.
Diding Sudirman, Kepala UPT TPA Rawa Kucing Kota Tangerang, mengatakan Unit Pengolah Sampah Organik (UPSO) TPA Rawa Kucing harus mengelola sampah organik terlebih dahulu sebelum dijadikan kompos.
“Itu kompos sejalan dengan program Kampung Tematik yang digagas oleh Pemkot Tangerang. Dan semua kompos yang didistribusikan oleh kita itu secara cuma-cuma atau gratis kepada masyarakat,” kata Diding, Jum’at (18/1/2019).
Diding mengatakan, dalam membuat kompos, pihaknya sangat bergantung pada cuaca. Apabila cuaca buruk, kompos hanya menghasilnya setengah dari hasil per-hari.
“Nah, itu semua nantinya didistribusikan ke seluruh warga dari 114 kelurahan yang ada di Kota Tangerang,” ujarnya
Diding menjelaskan, kompos yang dibuat tersebut juga hanya didistribusikan untuk warga Kota Tangerang saja. Dikarenakan, pembuatan kompos tersebut memakai anggaran Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang
“Warga dari luar Kota Tangerang seperti Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tidak diberikan,” terangnya.
Bagi warga yang ingin meminta kompos gratis tersebut, lanjut Diding, warga hanya perlu membuat surat keterangan dari RT lalu ke – Kelurahan untuk direkomendasikan ke TPA Rawa Kucing ini dengan proses selama tiga hari.
“Tapi kalau misalkan dari kelurahanya sendiri tidak memberikan rekomendasi, langsung kesini aja. Jadi memang prosedurnya seperti itu. Proses tiga hari, kalau komposnya ada ya langsung kita kasih jadi tak usah nunggu tiga hari,” paparnya.
Diding menambahkan, permintaan kompos gratis juga dimaksimalkan, seperti kelompok RT itu 10 karung. Namun, apabila lebih besar lagi kebutuhanannya bisa mencapai 30 karung per-hari.
“Kalau permintaan bisa mencapai 20 ton per-hari. Akan tetapi ada tahapan untuk menggilirnya, supaya tidak berantakan. Nah kita juga lihat siapa yang lebih membutuhkan atau yang disebut di prioritaskan, yang kami prioritaskan itu untuk Kampung Tematik dan Sekolah Adiwiyata,” tukasnya. (ahmad/aul)
