Pengusaha Tempe Di Tangerang Ketar – Ketir Rupiah Anjlok

Kabupaten Tangerang – Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus angka Rp. 14.927 membuat beberapa pengusaha tempe menyiasati produksinya agar tetap bertahan.

Pasalnya, kedelai yang merupakan bahan utama pembuatan tempe merupakan bahan impor.

Salah satunya, terjadi pada para produsen tempe diwilayah Ranca Sadang, Sodong, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.

Para produsen tempe yang sudah membuka usaha sejak tahun 93 ini, melakukan cara untuk menjaga stabilitas hasil produksi dengan melakukan stok kedelai.

“Sekarang udah Rp. 770ribu per kwintal, padahal sebelumnya Rp. 735ribu,” ujar Wasdari, pemilik usaha tempe, Kamis (6/9/2018).

Ia mengatakan, adanya kenaikan harga tersebut, membuatnya harus memutar otak bagaimana menyiasati agar tetap berproduksi.

Ia melakukan cara dengan melakukan stok kedelai yang cukup hingga dua minggu kedepan.

“Ini saya ada stok kedelai untuk dua minggu kedepan, sengaja kita tidak terlalu banyak stok, karena khawatir kualitas dari kedelainya ini malah jelek kalau terlalu lama disimpan. Kalau siasati ukurannya juga tidak mungkin kita lakukan, malah kita khawatir,” katanya.

Kekhawatirannya pun bertambah jika nilai tukar rupiah belum juga stabil. Pasalnya, industri rumahan tempe miliknya bisa setop produksi lantaran tidak seimbang antara biaya produksi dan biaya jual.

“Dengan harga ini saja kita hanya untung per hari Rp. 200 sampai Rp. 300 ribu. Lalu, kalau tambah naik ya tentu kita tutup sementara, karena harga kedelai yang tembus Rp. 800 ribu itu pernah terjadi beberapa tahun lalu dan memang kita tutup produksi sementara,” ungkapnya.

Pria kelahiran Tangerang ini berharap, menguatnya harga dollar dapat segera diatasi pemerintah untuk menstabilkan harga rupiah tidak makin melemah.

“Kita harap sih jangan naik lagi dan minta segera cepat turun,” harap Wasdari. (yogi/nji)

Exit mobile version