Motif Penembakan Las Vegas Masih Belum Jelas

Warga menyalakan lilin di lokasi penembakan (Foto: Getty Images)

Jakarta-SuaraNusantara

59 tewas dan lebih 500 luka-luka dalam aksi penembakan Las Vegas yang diduga dilakukan seorang lelaki kaya raya bernama Stephen Paddock (64), pada Minggu malam (1/10/2017) kemarin. Tiga hari setelah tragedi penembakan itu, kepolisian AS masih belum mengetahui motif pelaku.

Stephen Paddock diberitakan punya 34 senjata api ketika melakukan penembakan terhadap kerumunan penonton sebuah konser musik yang digelar di jalan utama Las Vegas Strip. Diperkirakan ada 20.000 penonton saat penambakan dilakukan secara serampangan dari jendela kamar hotel tempat Paddock menginap di lantai 32.

Polisi mengatakan, mereka percaya Paddock bertindak hanya sendiri, namun belum bisa menjelaskan apa yang mungkin menjadi motif pemicunya.

“Kami tidak tahu apa kepercayaannya,” kata Sheriff Clark County Joseph Lombardo kepada wartawan. “Saya tidak bisa masuk ke dalam pikiran psikopat.”

Catatan polisi mengenai Paddock hanya memuat pelanggaran lalu lintas, tidak ada catatan tindakan kriminal.

Stephen Paddock adalah seorang bekas akuntan yang kaya, yang tampaknya menikmati masa pensiun yang tenang di sebuah masyarakat kecil di gurun.

Paddock memiliki lisensi untuk menerbangkan pesawat terbang kecil dan sebelumnya tidak memiliki catatan kriminal. Kepolisian Las Vegas mengatakan pelanggaran hukum yang sebelumnya tercatat dilakukan oleh Paddock terbatas pada sebuah pelanggaran lalu lintas biasa.

Namun seorang bekas tetangganya menyebutkan bahwa Paddock adalah seorang penjudi profesional dan ‘berperilaku ganjil.’ Karenanya diduga Paddock memiliki riwayat gangguan psikologis, kata seorang petugas berwenang kepada kantor berita Reuters.

Biro penyidik federal Amerika Serikat (FBI) juga sudah menyingkirkan kemungkinan kaitannya dengan terorisme internasional walau ada klaim dari kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Bekas tetangga Paddock, Diane McKay (79), mengatakan kepada Washington Post bahwa ia dan pacarnya adalah orang yang selalu tertutup.

“Dia berperilaku ganjil,” kata Diane McKay. “Ia hidup menyendiri. Seakan tak ada orang lain yang hidup di sekelilingnya.”

“Wajarnya kan orang bisa kelihatan bersungut-sungut, tertawa, apa saja. Tapi dia ini tidak. Dia membisu saja.”

Jumlah korban jiwa yang jatuh akibat aksi Paddock menjadi yang terbesar sepanjang sejarah modern Amerika Serikat. Sebelumnya, korban terbesar adalah 49 korban jiwa, dalam penembakan di kelab malam di Orlando, Negara Bagian Florida, pada Juni 2016 lalu.

Penulis: Yon K

 

 

Exit mobile version