
Jakarta-SuaraNusantara
Menteri Ekonomi Taiwan Lee Chih-kung mengundurkan diri pada Selasa (15/8/2017) kemarin, menyusul pemadaman listrik massal di 17 wilayah yang mempengaruhi aktivitas 6,68 juta rumah tangga.
Pemadaman listrik terjadi di hari yang sama dengan pengunduran diri Lee, akibat kesalahan teknis yang menyebabkan enam generator di pusat pembangkit listrik tenaga gas alam di Taoyuan, berhenti beroperasi.
Akibat pemadaman listrik itu, lalu lintas sempat kacau karena lampu lalu lintas tidak berfungsi. Selain itu, banyak orang terjebak dalam lift di kawasan perkantoran.
Badan Kepolisian Nasional Taiwan pun terpaksa mendirikan pusat tanggap darurat untuk memastikan ketertiban setelah peristiwa ini.
Dikutip dari AFP, Pengunduran diri Lee mendapat persetujuan dari Perdana Menteri Lin Chuan dalam rapat kabinet. Di Taiwan, urusan listrik memang menjadi tanggungjawab Kementerian Ekonomi.
Kalau di Taiwan seorang menteri bisa merasa malu dan mengundurkan diri hanya karena listrik padam sehari, bagaimana dengan menteri-menteri dan pejabat terkait di Indonesia?
Di Indonesia, pemadaman listrik seenaknya sudah biasa terjadi hingga kerap merugikan aktivitas bisnis dan kehidupan sehari-hari para pelanggan listrik, termasuk menyebabkan rusaknya barang-barang elektronik warga.
Contoh lebih miris, di Kepulauan Nias, Sumatera Utara, pemadaman listrik dengan berbagai alasan, bahkan bisa berlangsung selama berminggu-minggu, hingga masyarakat dipaksa kembali ke zaman batu.
Sekarang, tarif listrik 900 VA juga naik gila-gilaan, bisa mencapai 3 kali lipat dari tarif sebelumnya. Lucunya, tarif listrik sudah mencekik leher rakyat, masih disebut sebagai tarif termurah dibanding negara lain. Tapi pejabat yang mengatakan hal itu lupa membandingkan pendapatan per kapita warga kelas menengah ke bawah Indonesia yang jauh berada di bawah pendapatan per kapita negara lain.
Tingginya pendapatan perkapita di negara lain menyebabkan masyarakatnya mampu membayar tarif listrik tinggi, sementara di Indonesia, kenaikan tarif listrik itu sama artinya membunuh rakyat pelan-pelan.
Begitulah kalau pejabat bermental bisnis banyak bercokol di sebuah negara. Mungkin karena terlalu banyak minum larutan penyegar yang ada muka badaknya, sehingga tidak punya rasa malu sebagaimana yang dirasakan Menteri Ekonomi Taiwan.
Kontributor: Eka