
Calon Walikota Gunungsitoli Ir. Lakhomizaro Zebua menilai tingkat kesejahteraan masyarakat Kota Gunungsitoli masih sangat rendah yang ditandai dengan persentase jumlah penduduk miskin berdasarkan data BPS Tahun 2013 mencapai 41.100 jiwa atau 30,94 % dari total jumlah penduduk di sana. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding daerah lain di Provinsi Sumatera Utara yang rata-rata sebesar 10,39 %. Demikian juga aspek pelayanan dasar lainnya seperti pendidikan dan kesehatan, menurutnya masih belum optimal dan sering dikeluhkan masyarakat.
“Hampir tidak ada perubahan signifikan dalam penataan kota Gunungsitoli, termasuk pembangunan prasarana infrastruktur wilayah dan penataan kantor-kantor SKPD. Padahal potensi sumber daya alam yang tersedia cukup besar dan didukung oleh posisi geo strategis Kota Gunungsitoli sebagai pusat perdagangan dan jasa di Kepulauan Nias. Tapi ternyata semua itu belum mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat. Di sisi lain pengembangan wilayah kota dari aspek ruang juga tidak terkendali, gersang, serta tidak memberikan rasa kenyamanan bagi warganya,” ujar Lakhomizaro Zebua di kepada IndoNias, di kediamannya, beberapa saat lalu.
Menurut mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Nias Selatan yang juga pernah menjabat sebagai Pj. Walikota Gunungsitoli ini, pembangunan di Kota Gunungsitoli harus dimulai dari pembangunan manusianya dulu, yang mengandung pengertian bahwa orientasi pembangunan bukan semata membangun pusat pertumbuhan ekonomi, melainkan orientasinya pada kehidupan masyarakat dengan sasaran mewujudkan kondisi masyarakat yang memiliki kemakmuran, kesejahteraan dengan penuh rasa kedamaian, keamanan, dan keteraturan.
Untuk itu, dia membuat Kebijakan dan Program Prioritas 2016-2021, jika dalam Pilkada Serentak 9 Desember mendatang berhasil terpilih sebagai Walikota Gunungsitoli. Adapun beberapa poin penting dari sekian banyak program kerjanya adalah: Pemenuhan tenaga guru melalui formasi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja yang dibiayai dari APBD, sehingga keberadaan guru-guru honorer tidak menjadi beban bagi siswa. Lalu program pemberian beasiswa bagi siswa berprestasi, pelayanan ambulans gratis selama 24 jam tiap hari, peningkatan status puskesmas menjadi rawat inap, jaminan kesehatan bagi masyarakat yang tidak ditanggung Kartu Indonesia Sehat (KIS), pelayanan dokter spesialis secara berkala, serta pemberian pupuk gratis bagi petani sawah.
Dia menjelaskan, Kebijakan dan Program Prioritas tadi sesuai dengan fokus perhatian untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan pertanian, sebab ketiga sektor itu merupakan trisula yang memiliki tingkat kualitas yang beriringan. “Pendidikan merupakan senjata paling ampuh dalam menghapus kemiskinan, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, dan kesejahteraan merupakan faktor utama penunjang kesehatan. Maka dari itu, tiga hal tadi memiliki korelasi yang tidak terpisahkan sehingga harus berjalan beriringan,” ujarnya.
Sebagai sosok yang sangat memahami masalah pembangunan infrastruktur perkotaan, dia juga bertekad akan menata kualitas infrastruktur dan aksesibilitas ke pusat-pusat pemukiman/pedesaan dan membenahi masalah transportasi supaya lebih nyaman, menyediakan fasilitas pendukung sebagai pusat distribusi, jasa dan perdagangan serta penyediaan prasarana berupa gedung-gedung perkantoran. Di bidang ekonomi dan penanggulangan kemiskinan, peningkatan pola pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan yang masih tradisional akan dikembangkan menjadi lebih modern. Keberadaan Kota Gunungsitoli diusahakan dapat menjelma sebagai pusat jasa dan perdagangan. Usaha Mikro Kecil dan Menengah pun akan diberdayakan.
Perbaikan tata kelola pemerintahan daerah tak luput dari perhatiannya. Kualitas pelayanan publik, akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, serta meningkatkan kapasitas dan kompetensi aparatur akan diperbaiki. Selain itu, salah satu terobosan yang akan segera dilaksanakan adalah Program Kecamatan Membangun Sepanjang Tahun. Program ini nantinya akan dipelopori oleh Dinas PU Kota dan Kecamatan.
Rela pensiun dini
Lakhomizaro Zebua dalam Pilkada 9 Desember mendatang berpasangan dengan Sowa’a Laoli SE. MS.i. Mereka lebih dikenal dengan sebutan Paslon LASO dan memperoleh Nomor Urut 2. Terjunnya Lakhomizaro ke dunia politik bukan tanpa alasan. Pria kelahiran Tumori, 11 November 1962 ini merasa ada mata rantai tujuan pemekaran Daerah Otonom Baru yang terputus. Sebagai salah seorang tokoh pemekaran yang pernah menjabat sebagai Ketua Harian Badan Persiapan Pembentukan (BPP) Kota Gunungsitoli di tahun 2008, dia merasa kesenjangan antara harapan dan kenyataan dalam pengambilan kebijakan pembangunan. “Maka satu-satunya jalan yang dapat ditempuh untuk memperbaiki keadaan tersebut adalah terjun ke dunia politik praktis agar dapat mencalonkan diri sebagai Bakal Calon Walikota pada Pilkada Tahun 2015,” ujarnya.
Namun keputusan untuk ikut bertarung dalam Pilkada Serentak 9 Desember 2015 bukan tanpa perngorbanan. Dia harus menerima konsekuensi berupa pensiun dini sebagaimana amanat perundang-undangan, padahal masih ada sisa delapan tahun baginya untuk mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun dia menyatakan ikhlas karena keputusan itu diambil atas dasar tujuan yang mulia yaitu demi kepentingan masyarakat. Seandainya saya berpikir diri sendiri, katanya, maka kehidupan sebagai PNS sampai pensiun secara normal, sangat lebih dari cukup.
Kematangan Lakhomizaro Zebua dalam memimpin memang tak perlu diragukan. Puluhan tahun berdinas sebagai pegawai negeri dengan beragam jabatan yang pernah disandang, termasuk pernah menjadi Plt. Walikota Gunungsitoli pada masa awal pemekaran, membuatnya sarat pengalaman. Dia tidak ingin sia-sia karena keputusan pensiun dini telah mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarga, sehingga bertekad sekuat tenaga akan mencurahkan ide dan gagasan dalam menghadirkan program dan terobosan untuk kepentingan masyarakat. “Saya harus dapat menjadikan Kota Gunungsitoli sebagai kota yang maju, nyaman dan sejahtera,” ujarnya.
Bersama Sowa’a Laoli yang sarat pengalaman sebagai wakil rakyat di DPRD, Lakhomizaro juga membuat beberapa perencanaan awal seandainya berhasil memenangkan Pilkada Gunungsitoli 9 Desember mendatang. “Langkah awal yang akan kita tempuh adalah pembenahan secara internal, salah satunya adalah distribusi PNS dan SDM yang baik dan merata, pengkajian kesejahteraan PNS, pembinaan mental dan rasa memiliki serta penerapan reward and punishment. Kemudian kita akan konsolidasi, koordinasi dan konsultasi kepada berbagai pihak pemangku kepentingan untuk menyamakan dan menyatukan hati dalam menghadirkan kebijakan-kebijakan pembangunan yang dapat menjawab harapan masyarakat,” ujarnya.
Lahir dari keluarga sederhana
Lakhomizaro Zebua lahir di sebuah keluarga sederhana, sebagai anak ke-9 dari 10 bersaudara dari pasangan Alm. Tandradodo Zebua (Ama Woluaha) dan Alm. Saliba Gea. Kedua orang tuanya merupakan petani. Meski hidup sederhana, bahkan sering kekurangan, namun nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran dan kerja keras selalu ditanamkan oleh orangtua. Tak heran jika masa kecil dan remaja dihabiskan untuk membantu pekerjaan orang tua.
Ayahnya meninggal dunia tahun 1981. Saat itu, Lakhomizaro masih duduk di bangku kelas 3 SMA, sehingga harapannya untuk melanjutkan sekolah terasa pupus karena ketiadaan biaya. Namun Tuhan berkehendak lain. Atas kerja keras ibu tercinta sebagai petani dan dukungan dari sanak keluarga, Lakhomizaro berhasil menyelesaikan SMA, bahkan kuliah di Fakultas Teknik Universitas Darma Agung, Medan. Namun karena uang kiriman keluarga hanya cukup untuk membayar biaya kuliah, maka Lakhomizaro harus bekerja keras agar dapat bertahan hidup di perantauan hingga akhirnya gelar Sajana Teknik Sipil berhasil diraihnya tahun 1989.
Babak baru dalam kehidupannya pun dimulai. Dia sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta hingga akhirnya diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil pada Tahun 1993. Sebagai PNS, karirnya dimulai sebagai Staf pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nias dan seiring pergantian tahun, berbagai jabatan struktural pernah dijabat olehnya, antara lain sebagai Kasubsi Perencanaan Kota dinas PU Nias (1995), Kasi jalan dan jembatan Dinas PU Nias (1999). Kasubdis Pengembangan Prasarana Jalan Dinas Kimpraswil Nias (2003), Plt. Kadis Kimpraswil Nias (2004), Kadis Kimpraswil Nias (2005), Kadis PU Nias (2009), Kadis Tarukim Nias (2010), Pj. Wali kota Gunungsitoli (2010), dan Kadis PU Nias Selatan (2012).
Dalam bidang organisasi, suami dari Sukartini Wau dan ayah lima anak ini berpengalaman sebagai Ketua Pelaksana Badan Persiapan Pemekaran Kota Gunungsitoli (2008), Ketua PBSI Kab. Nias (2002), dan Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Gunungsitoli (2015).
Saat dipercaya menjadi Pj. Walikota Gunungsitoli di tahun 2010, Lakhomizaro Zebua sebenarnya bukan Pegawai Kota Gunungsitoli, tetapi semua yang ada di Kabupaten Nias dahulu adalah kawannya, sehingga tak seorangpun yang tidak mendukung dirinya. “Buktinya pada pelantikan saya di Kantor Gubernur Sumatera Utara hampir semua pejabat Kota Gunungsitoli datang menyaksikan pelantikan Pj Walikota Gunungsitoli di Aula Martabe Gubernur Sumatera Utara pada hari Rabu, 27 Oktober 2010,” katanya.
Begitu menjabat Pj. Walikota, dia langsung mengajak seluruh pegawai Kota Gunungsitoli untuk bergandeng tangan membangun Kota Gunungsitoli menuju kota yang maju, nyaman dan berdaya saing. “Segala hal yang belum dilaksanakan oleh pejabat lama mari kita benahi, agar pelaksanaan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan terlaksana sesuai dengan harapan masyarakat. Saya tidak mau mengambil keputusan sendiri, tapi keputusan bersama. Kalau ada hal-hal yang dirasa ragu-ragu, diminta untuk menanyakan pada saya,” ujarnya kala itu.
Sayangnya, sebagai Pj. Walikota yang hanya sementara memimpin, tidak cukup waktu baginya untuk membangun Kota Gunungsitoli secara menyeluruh. Untuk itu, dia bertekad akan meneruskan dan mengembangkan program-program pembangunan yang dulu pernah dijalankannya, demi kemajuan Kota Gunungsitoli, kota yang bertahun-tahun silam pernah dia perjuangkan pemekarannya dan pernah dia pimpin dengan sepenuh hati.
“Filosofi pembangunan Kota Gunungsitoli yang akan kami kembangkan adalah “Membangun Kehidupan Manusia” yang mengandung pengertian orientasi pembangunan bukan semata membangun pusat pertumbuhan ekonomi, melainkan orientasinya pada kehidupan masyarakat dengan sasaran mewujudkan kondisi masyarakat yang memiliki kemakmuran, kesejahteraan dengan penuh rasa kedamaian, keamanan, dan keteraturan,” tegasnya. (Rio)
Biodata Singkat
Nama
Lakhomizaro Zebua
Tempat Lahir
Tumori, 11 November 1962
Agama
Kristen Protestan
Istri
Sukartini Wa’u
Anak
Elvivian N. Zebua (PNS)
Putra H. Zebua (Mahasiswa)
Eliaman Zebua (Pelajar)
Juan B. Zebua (Pelajar)
Elwendi A. B. Zebua (Pelajar)
Orang tua
Ayah: Tandradodo Zebua (Alm)
Ibu: Saliba Gea (Alm)
Pendidikan
SD Negeri Sihare’o
SMP Negeri 3
SMA Negeri Gunungsitoli
Universitas Darma Agung Medan (S1)
Hobby
Olahraga
Filosofi Hidup
Bekerja, berdoa, dan bermanfaat












