Suaranusantara.com – Desa Wae Rebo adalah sebuah desa adat yang terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Desa ini menawarkan pesona wisata budaya yang menawan, dengan rumah-rumah tradisional yang berbentuk kerucut dan beratapkan ijuk.
Desa ini juga dikelilingi oleh pemandangan alam yang indah, dengan hutan, gunung, dan awan yang membentang di sekitarnya.
Desa Wae Rebo merupakan salah satu warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO pada tahun 2012. Desa ini mendapatkan penghargaan Top Award of Excellence dalam ajang UNESCO Asia Pacific Heritage Awards 2012 di Bangkok, dengan menyisihkan 42 negara lainnya.
Penghargaan ini diberikan karena desa ini berhasil melestarikan nilai-nilai budaya, arsitektur, dan lingkungan yang khas dan langka.
Untuk mencapai desa ini, pengunjung harus melakukan perjalanan yang cukup menantang. Dari Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 100 km dengan menggunakan kendaraan bermotor.
Setelah itu, pengunjung harus berjalan kaki selama sekitar 3 jam dari Desa Denge, yang merupakan titik terakhir yang dapat dijangkau oleh kendaraan.
Di sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhi oleh pemandangan hutan tropis, sungai, dan jurang yang memesona.
Saat tiba di desa ini, pengunjung akan disambut oleh warga setempat dengan upacara adat yang disebut dengan Compang.
Upacara ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan kepada para tamu yang datang. Pengunjung juga harus membunyikan sebuah alat musik bambu yang disebut dengan Pepak, sebagai tanda kedatangan mereka.
Selama menginap di desa ini, pengunjung dapat menginap di salah satu dari tujuh rumah adat yang disebut dengan Mbaru Niang.
Rumah-rumah ini memiliki kapasitas untuk menampung sekitar 6-8 orang per rumah. Pengunjung juga akan disajikan dengan makanan khas desa ini, seperti jagung, ubi, dan sayuran.
Selain menikmati kehidupan desa yang sederhana dan harmonis, pengunjung juga dapat mengenal lebih dekat budaya dan tradisi desa ini.
Salah satu yang menarik adalah kisah asal-usul desa ini, yang konon berasal dari mimpi seorang leluhur yang bernama Empo Maro.
Dalam mimpi tersebut, ia melihat sebuah tempat yang cocok untuk bercocok tanam dan menetap, yaitu Desa Wae Rebo.
Pengunjung juga dapat melihat berbagai benda-benda pusaka yang disimpan di rumah adat, seperti gong, tombak, dan keris.
Pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai upacara adat yang dilakukan oleh warga desa, seperti upacara panen, upacara kematian, dan upacara pernikahan.
Desa Wae Rebo adalah destinasi wisata budaya yang layak untuk dikunjungi. Desa ini menawarkan pengalaman yang berbeda dan berkesan bagi para pengunjung.
Dengan mengunjungi desa ini, pengunjung tidak hanya dapat menikmati keindahan alam, tetapi juga dapat belajar dan menghargai budaya dan tradisi yang masih lestari.
Desa Wae Rebo adalah bukti bahwa warisan budaya dapat menjadi daya tarik wisata yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat.













Discussion about this post