Jakarta-SuaraNusantara
Sebuah program pendidikan yang dinamakan Skill For Competitiveness (S4C) dikembangkan oleh pemerintah Indonesia dan Swiss sebagai upaya pengembangan politeknik berbasis kejuruan yang menerapkan sistem ganda (dual system) pada proses pendidikannya.
“Selain meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar sesuai kebutuhan dunia industri saat ini, tujuannya juga untuk kesiapan kita memasuki penerapan Industry 4.0,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan persnya yang diterima redaksi, Kamis (22/03/2018).
Airlangga menyebutkan, ada empat politeknik dan satu akademi komunitas milik Kementerian Perindustrian yang akan dikembangkan dalam kerja sama ini, yaitu Politeknik Logam Morowali, Sulawesi Tengah, Politeknik Kayu dan Pengolahan Kayu Kendal, Jawa Tengah, Politeknik Industri Petrokimia Cilegon, Banten, serta Akademi Komunitas Industri Logam Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Selanjutnya, satu sekolah milik Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, yakni Politeknik Pemrosesan Ikan Jember, Jawa Timur. “Ini merupakan salah satu kerja sama kedua negara yang prosesnya cukup cepat, karena sudah direalisasikan,” ujar Airlangga.
Menurut Airlangga, kerja sama kedua belah pihak ini akan meliputi beberapa aktivitas seperti manajemen, kuliah dan pelatihan, penambahan kurikulum, serta penyiapan jejaring dan dukungan teknis dalam pengembangan sistem pendidikan vokasi. “Mereka berkomitmen mendanai fase pertama selama empat tahun proyek,” ujarnya.
Adapun Pemerintah Swiss akan memberikan bantuan sebesar Rp110 miliar untuk lima politeknik vokasi di Indonesia yang sudah ditetapkan tersebut. “Oleh sebab itu, kami menyampaikan terima kasih dan megapresiasi bantuan dan kerja sama dari Pemerintah Swiss ini, semoga kompetensi SDM Indonesia bisa unggul seperti di Swiss,” ungkapnya.
Menperin menyampaikan, Swiss merupakan negara yang cukup lama menerapkan Dual Vocational Education and Training (D-VET) system. Hasilnya mereka telah membuktikan sebagai negara dengan tingkat pengangguran pekerja muda yang rendah dan mencapai produktivitas tinggi. Berdasarkan The Global Competitiveness Index 2017-2018 Rankings, Swiss mampu menempati posisi puncak selama beberapa tahun terakhir. (Eka)












