b
SuaraNusantara.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Trisakti mengungkapkan bahwa mereka mengalami intimidasi dan represifitas menjelang pembacaan Maklumat Trisakti Lawan Tirani di Tugu Reformasi, Jakarta Barat, pada hari Jumat (9/2).
Presiden Mahasiswa Trisakti, Vladima Insan Mardika, mengatakan bahwa banyak pihak mencoba menghalangi deklarasi tersebut, termasuk dengan melarang mahasiswa masuk ke kampus dan menekan wakil presiden mahasiswa untuk tidak melakukan orasi.
“Ini merupakan suatu hal yang memalukan bagi kami, terutama bagi saya sendiri sebagai presiden mahasiswa yang tak bisa membawa mahasiswa masuk ke kampus,” kata Insan di Kampus Trisakti, Grogol, Jakarta Barat.
Meskipun demikian, BEM Trisakti bersama para sivitas akademika lainnya tetap bertekad untuk membacakan Maklumat Trisakti Lawan Tirani sebagai bentuk keprihatinan atas kemunduran demokrasi di Indonesia.
Maklumat tersebut berisi penolakan terhadap berbagai pelanggaran etika kehidupan berbangsa, termasuk manipulasi bansos, pemberantasan korupsi yang bermotif politik, dan intimidasi terhadap ekspresi kritik dan protes.
BEM Trisakti juga menyatakan bahwa Pemilu 2024 menjadi pemilu pertama yang tidak fair, tidak bebas, dan tidak demokratis semenjak masa reformasi.
“Terlalu banyak ketidaknetralan pejabat dan aparat negara, termasuk penyalahgunaan fasilitas dan sumber daya negara lainnya hanya untuk kepentingan partisan Paslon tertentu,” kata Insan.
Sebagai penutup, BEM Trisakti mendesak Presiden dan seluruh penyelenggara negara untuk kembali ke jalur Reformasi 1998: menegakkan supremasi hukum dan HAM, memberantas KKN, mengadili kroni-kroni Soeharto, menjaga otonomi daerah, mencabut dwifungsi ABRI, dan membatasi kekuasaan melalui UUD 1945.
