Suaranusantara.com-Kekurangan gizi kronis dianggap sebagai penyebab utama terjadinya stunting pada anak, yang ditandai dengan pertumbuhan fisik yang terhambat.
Prof.dr. Damayanti R Sjarif, Ketua Satgas Stunting Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa stunting terjadi ketika tinggi badan balita berada di bawah minus 2 standar deviasi (-2SD) dari standar WHO.
Asupan gizi yang tidak memadai dan meningkatnya kebutuhan gizi anak adalah dua faktor utama kekurangan gizi kronis yang berujung pada stunting, demikian diungkapkan oleh Prof.dr. Damayanti. Berikut penjelasan lebih lanjut:
1. Asupan Gizi Tidak Adekuat:
Kemiskinan: Faktor ekonomi menjadi penghambat utama asupan gizi anak. Prof.dr. Damayanti menyoroti bahwa dalam situasi kemiskinan, orang tua mungkin tidak mampu membeli makanan yang bergizi untuk anak-anak mereka.
Penelantaran Anak: Anak-anak yang ditinggalkan atau dibuang, seperti yang terjadi di pinggir jalan, dapat mengalami asupan gizi yang tidak mencukupi.
Ketidaktahuan: Di lingkungan perkotaan, ketidaktahuan menjadi faktor besar. Meskipun orang tua memiliki tingkat ekonomi yang baik, mereka mungkin tidak memiliki pengetahuan tentang kebutuhan gizi yang tepat untuk mencegah stunting pada anak.
2. Kebutuhan Gizi Anak Meningkat:
Faktor Kesehatan: Anak yang sering sakit dapat mengalami peningkatan kebutuhan gizi. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, dapat menyebabkan kekurangan gizi kronis dan stunting.
Melalui upaya ini, diharapkan dapat mengurangi angka stunting dengan memastikan bahwa anak-anak menerima asupan gizi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal mereka. Perhatian pada kesehatan anak dan pendidikan gizi menjadi kunci untuk mengatasi masalah stunting di masyarakat.
