Suaranusantara.com – Pada pagi ini, kurs rupiah tercatat sebesar Rp 15.151 per dolar AS, menunjukkan pelemahan jika dibandingkan dengan akhir pekan sebelumnya yang berada di level Rp 15.150 per dolar AS.
Ariston Tjendra, seorang pengamat pasar uang, memprediksi bahwa pergerakan kurs rupiah hari ini masih akan terpengaruh oleh kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Menurut Ariston, ada kemungkinan kurs rupiah melemah menjadi sekitar Rp 15.150, namun juga ada potensi penguatan menjadi sekitar Rp 15.100.
Pada Jumat pekan lalu, tercatat penurunan sebesar 0,05 persen atau 7 poin dalam nilai tukar rupiah antarbank di Jakarta, menjadi Rp 15.150 per dolar AS. Pelemahan tersebut jika dibandingkan dengan hari sebelumnya yang berada di level Rp 15.143 per dolar AS.
Ariston menjelaskan bahwa berdasarkan hasil survei CME FedWatch tool, probabilitas kenaikan suku bunga acuan AS pada bulan Juli 2023 sangat tinggi, mencapai sekitar 92 persen. Angka tersebut mengalami peningkatan dari pekan sebelumnya yang berada di kisaran 86 persen.
Menurut Ariston, pasar tampak sangat meyakini adanya kenaikan suku bunga acuan dari The Fed pada bulan ini.
Ariston menjelaskan bahwa ada dua faktor yang mendukung probabilitas kenaikan suku bunga acuan yang tinggi. Pertama, gubernur The Fed menyatakan bahwa masih mungkin terjadi dua kali kenaikan suku bunga acuan tahun ini karena tingkat inflasi yang masih tinggi dan belum mencapai target 2 persen.
Kedua, data ekonomi AS yang dirilis juga memberikan dukungan terhadap kenaikan suku bunga acuan, yang berarti masih ada potensi peningkatan inflasi di AS dan diperlukan kebijakan suku bunga yang tinggi.
Ariston menyebut bahwa hasil data ekonomi AS yang baru-baru ini dirilis menghasilkan variasi, ada yang mendukung kenaikan suku bunga acuan berikutnya dan ada pula yang mengurangi kemungkinan tersebut.
Sebelumnya, Gubernur Bank Sentral AS menyatakan bahwa belum ada rencana untuk menurunkan suku bunga acuan, bahkan ada potensi kenaikan dua kali dalam setahun. Oleh karena itu, Ariston berpendapat bahwa dolar AS masih berpeluang untuk menguat terhadap mata uang lainnya di masa depan.
Namun, sentimen pasar seringkali berubah seiring dengan perkembangan data dan kondisi ekonomi terkini. Oleh karena itu, Ariston menyatakan bahwa pergerakan dolar AS terhadap mata uang lainnya, termasuk rupiah, tetap dipengaruhi oleh sentimen The Fed di pasar dan akan tetap memiliki volatilitas yang tinggi.(red)
