
Jakarta-SuaraNusantara
Sejarah Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) punya kisah panjang dan menarik. Nama dan struktur pasukan sempat berubah-ubah. Ada juga yang dibubarkan karena kisruh politik.
Paspampres lahir di masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam menghadapi tekanan Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia Kedua, sejumlah pemuda yang tergabung dalam kesatuan Tokomu Kosaku Tai (Kesatuan Polisi Macan) yang berada di bawah naungan Pembela Tanah Air (Peta) berinisiatif untuk mengawal dan mengamankan Presiden dan Wakil Presiden.
Mendengar akan ada peristiwa besar tanggal 17 Agustus, anggota pasukan Tokomu Kosaku Tai membawa senjata dan menuju lokasi pembacaan proklamasi. Kebetulan markas para polisi muda ini tak jauh dari Pegangsaan Timur, tempat tinggal Soekarno. Sejak saat itulah mereka ditugasi mengawal Soekarno.
Tokomu Kosaku Tai kemudian berganti nama menjadi Polisi Pengawal Presiden (PPP).
Saat itu keselamatan Soekarno-Hatta terancam jika terus berada di Jakarta. Belanda ditakutkan akan menyandera dua pemimpin itu. Maka keputusan berani harus diambil.
Merekalah yang melakukan aksi heroik mengawal kereta rahasia Soekarno dari Jakarta ke Yogyakarta pada 3 Januari 1946. Operasi ini kelak dikenal dengan istilah “Hijrah ke Jogjakarta”.
Pengamanan dilakukan mulai dari titik keberangkatan yang berada persis di belakang kediaman Presiden Sukarno ketika itu, di Jalan Pegangsaan Timur.
Secara rahasia kereta api luar biasa (KLB) yang membawa Bung Karno diberangkatkan menjelang senja pada tanggal 3 Januari 1946, dan tiba di Jogjakarta keesokan harinya.
Di Jogjakarta, Presiden Sukarno menetap di bekas rumah Gubernur Belanda di Jalan Malioboro, persis di depan Benteng Vredenburg, sementara Wakil Presiden menetap di Jalan Reksobayan.
Tanggal keberangkatan Bung Karno dan Bung Hatta ke Jogjakarta pada 3 Januari inilah yang kemudian dipilih sebagai hari lahir Paspampres.
Nama PPP kemudian diubah lagi jadi DKP atau Detasemen Kawal Pribadi. Komandannya AKBP Mangil Martowidjojo, yang mantan anggota Tokomu Kosaku Tai. Mangil dan kawan-kawan sangat setia mengawal Presiden Soekarno.
Beberapa aksi heroik yang dilakukan DKP misalnya menjadi tameng hidup saat peristiwa penembakan shalat Idul Adha di Istana tahun 1962. Pengawal bernama Amoen dan Susilo terluka saat menyelamatkan Soekarno.
Mereka juga yang menyelamatkan presiden saat peristiwa granat Cikini dan berbagai percobaan pembunuhan pada Soekarno. Di antaranya penghadangan oleh kelompok Darul Islam di Rajamandala dan serangan MiG ke istana oleh Daniel Maukar.
Pasukan DKP kemudian menjadi inti pengawalan Soekarno. Bahkan saat Resimen Tjakrabirawa sudah dibentuk, pengamanan di sekitar ring-1 tetap dipercayakan pada AKBP Mangil dan belasan anak buahnya.
Pembentukan Tjakrabirawa dinilai perlu oleh menteri pertahanan saat itu Jenderal Nasution. Sebabnya percobaan pembunuhan pada Presiden Soekarno terus terjadi. Misalnya peristiwa perebutan kekuasaan tanggal 3 Juli 1946, peristiwa granat Cikini tanggal 30 November 1957, peristiwa MIG-15 “Maukar” tanggal 9 Maret 1960, peristiwa pelemparan granat di Jalan Cendrawasih tanggal 7 Januari 1962 dan peristiwa penembakan pada saat Idul Adha di halaman Istana Merdeka Jakarta tanggal 14 Mei 1962.
Awalnya Soekarno menolak namun dia kemudian setuju. “Pada hari kelahiranku di tahun 1962, dibentuklah pasukan Tjakrabirawa. Satu pasukan khusus dengan kekuatan 3.000 orang yang berasal dari keempat angkatan bersenjata. Tugas pasukan Tjakrabirawa adalah melindungi presiden,” kata Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams.
Menurut Soekarno , tugas Tjakrabirawa tak cuma mengawal. Ada juga yang menyediakan grup band dan menghibur dirinya. Mereka juga bertugas mencicipi makanan sebelum disantap oleh Soekarno .
Diakuinya juga, Tjakrabirawa menjaganya rapat. Mereka selalu mengamankan gerak-gerik Soekarno . Awalnya Soekarno merasa kagok juga, tapi dia lalu terbiasa.
Ajudan senior presiden, Kolonel Sabur menjadi komandan pertama Resimen Tjakrabirawa. Pangkatnya dinaikkan menjadi brigadir jenderal. Sementara Kolonel Maulwi Saelan menjadi wakilnya.
Setelah Tjakrabirawa dibubarkan, pengawalan presiden diserahkan pada Satuan Tugas Polisi Militer Angkatan Darat (Satgas Pomad). Letkol Cpm Norman Sasono ditunjuk sebagai komandannya.
Satgas Pomad Para berkedudukan dibawah Direktorat Polisi Militer. Kekuatannya terdiri dari dua Batalyon Pomad, satu Batalyon Infanteri Para Raider, serta satu Detasemen Kaveleri Panser.
Banyak pihak menilai pembentukan ini sebagai upaya untuk menjauhkan Soekarno dari orang-orang terdekatnya.
Soekarno sempat menangis saat AKBP Mangil dikembalikan ke kesatuan induknya di Brimob. Padahal Mangil mengawal Soekarno sejak 17 Agustus 1945.
Pembenahan struktur organisasi TNI terus dilakukan oleh Presiden Soeharto. Tahun 1979, nama pasukan kembali diubah menjadi Pasukan Pengawal Presiden atau Paswalpres.
Tahun 1988 nama Pasukan Pengawal Presiden (Paswalpres) diganti dengan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Nama ini dinilai lebih cocok karena tugas utamanya pasukan bukan sekadar mengawal tapi mengamankan.
Paspampres sempat masuk struktur organisasi Badan Intelijen Startegis ABRI namun tahun 1993 kembali diubah. Paspampres ditaruh di bawah kendali langsung Panglima ABRI.
Awalnya Paspampres terdiri dari tiga grup. Grup A untuk mengawal Presiden beserta keluarga, Grup B mengawal Wapres dan keluarga. Sementara Grup C mengawal tamu negara beserta keluarga.
Tahun 2014 lalu, saat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Paspampres menambah satu grup. Grup D ini akan khusus mengawal para mantan presiden dan wakil presiden.
Personil Paspampres berasal dari prajurit pilihan seperti Kopassus, Raider, Kostrad, Marinir (Yontaifib dan Denjaka), Komando Pasukan Katak/Kopaska TNI AL dan Paskhas TNI AU, serta unit elit dalam Paskhas yaitu Detasemen Bravo 90.
Saat ini komandan Paspampres dijabat oleh Mayjen TNI (Mar) Suhartono, M.Tr (Han).
Penulis: Cipto/dari berbagai sumber