
Nias Selatan-SuaraNusantara
Hidup adalah sebuah tantangan yang harus dilalui oleh manusia. Tantangan yang sama dialami oleh Ahatöli Gowasa (45), seorang tukang besi/pandai besi di sebuah desa yang berada di pinggir jalan raya.
Dari kepandaiannya menyulap per mobil bekas menjadi peralatan pertanian dan rumah tangga, dia mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga, bahkan seorang anaknya telah lulus menjadi sarjana.
Di desa Hiliganöwö Kecamatan Telukdalam Kabupaten Nias Selatan, Ahatöli Gowasa menekuni pekerjaan sebagai seorang pandai besi sejak umur 16 tahun, terhitung sejak dia menjadi kernet (asisten) pada seorang pandai besi.
“Saya sudah bekerja sebagai kernet pandai besi sejak umur 16 tahun dan hingga sekarang masih melakoni pekerjaan ini,” tutur Ahatöli.
Sejak muda dia tidak pernah memikirkan pendidikan formal di sekolah. Dia hanya ingin bekerja mencari uang lewat sepotong besi yang diolah menjadi parang, cangkul dan kapak. Ketiga alat itu masih banyak dibutuhkan orang sebagai peralatan tani dan dapur.
Memiliki seorang istri dan 7 anak merupakan sebuah tanggungjawab besar yang harus dia jalankan. Soal apakah pekerjaan ini mampu memberikan penghasilan besar, Ahatöli sepertinya tidak terlalu memikirkan hal itu. Dia hanya bersyukur pekerjaan sebagai pandai besi sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Penghasilan sebagai pandai besi bahkan mengantarkan seorang anaknya menjadi sarjana.
“Anak sudah ada yang menamatkan kuliah, dua masih SD dan yang lainya sudah ada yang menikah,” imbuh Ahatöli.
Ahatöli sendiri kurang bisa menjelaskan mengapa dia memilih profesi sebagai pandai besi sebagai jalan hidupnya. Tapi dia merasa dia menjalani profesi tersebut karena hanya keahlian itulah yang dia bisa.
“Mengapa harus melakoni pekerjaan ini (pandai besi)? Karena memang hanya itu yang bisa saya jalankan dan sudah menjadi kebiasaan saya,” katanya.
Bahan Baku dari Per Mobil Bekas
Bahan baku besi didapat dari penjual besi bekas seharga Rp 12.000 per kilogram. Besi yang digunakan diambil dari per mobil bekas yang sudah tak terpakai lagi. Kebutuhan lain yang harus dibeli setiap harinya adalah arang kayu dari petani. Arang kayu ini nantinya dibakar untuk memanaskan besi.
Untuk memperoleh sebuah parang, cangkul atau kapak, Ahatöli harus memanaskan potongan besi dengan bara api hingga berwarna merah bercampur oranye. Setelah itu besi dibentuk dengan cara dipukul menggunakan martil seberat 5 hingga 7 kilogram.
Selain itu, dia juga menggunakan martil seberat 2 kilogram untuk proses penghalusan. Peralatan lainnya terdiri dari tang jepit serta alas pemukul serta pompa angin untuk meniup api.
Bekerja sebagai pandai besi tentunya akan berhadapan dengan panasnya api, asap, debu arang dan debu besi. Tentu hal itu bisa mengganggu kesehatan. Namun Ahatöli sudah terbiasa dengan hal itu.
Asap, debu, panas, semua itu sudah langganan kita setiap hari. Tapi saya selalu mengecek kesehatan di klinik terdekat,” jelasnya.
Setiap hari Ahatöli Gowasa dibantu anak-anaknya mampu memproduksi 10 buah parang. Setiap parang dijual Rp 50 ribu. Semua dikerjakan secara manual bermodalkan pengalaman dari seniornya sewaktu masih menjadi kernet.
“Kami jual satu buah parang itu Rp 50 ribu. Dan biasanya kami jualnya di pekan-pekan (pasar dadakan), yang namanya jualan terkadang tidak habis terjual semua,” tuturnya.
Ahatöli Gowasa berharap pekerjaanya sebagai pandai besi mendapat perhatian pemerintah, terutama dalam pemberian peralatan yang cukup serta pemodalan.
“Saya berharap ada perhatian pemerintah pada pekerjaan kami ini, terutama dalam penyediaan peralatan dan pemodalan yang cukup,” harap Ahatöli Gowasa di akhir perbincangan.
Penulis: Wilson Loi