Ke Mana Larinya Suara Pendukung Agus-Sylvi di Putaran Dua?

Foto: jktgo.com

Jakarta-SuaraNusantara

Pasangan calon nomor urut satu, Agus-Sylvi dipastikan tersingkir dari  ingar bingar Pilkada DKI. Sementara pasangan calon nomor urut 2 Ahok-Djarot dan pasangan nomor urut 3 Anies-Sandi dipastikan melenggang ke putaran 2. Kalangan awam memprediksi suara pendukung Agus-Sylvi otomatis akan mengalir ke pasangan Anies-Sandi. Benarkah seperti itu?

Prediksi penggabungan suara ini terutama didasari sentimen agama, menyusul perkataan Ahok soal Al Maidah 51. Dalam berbagai aksi organisasi massa keagamaan, seruan wajib memilih pemimpin muslim terus didoktrinasikan. Bila suara pendukung  Agus-Sylvi mengalir ke Anies-Sandi, dipastikan perolehan suara Anies-Sandi pada putaran dua akan melebihi ketentuan minimal 50% perolehan suara. Akan tetapi,  kenyataannya tidak akan sesederhana itu.

Baik pasangan Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi, masing-masing harus bersaing keras merebut suara dari pendukung Agus-Sylvi. Visi misi mereka dalam dua bulan ke depan harus dapat merangkul keinginan masyarakat lapisan menengah ke atas dan lapisan menengah ke bawah, yang masing-masing memiliki kebutuhan dan kepentingan berbeda.

Pemilih Agus-Sylvi yang memutuskan berada pada posisi ‘mandiri’ usai kekalahan jagoannya di putaran pertama, akan melihat visi misi masing-masing pasangan calon yang sesuai dengan kepentingan pribadi mereka. Pada titik ini, baik Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi sama-sama berpeluang merebut suara pendukung Agus-Sylvi.

Namun perlu diingat bahwa massa pemilih di tanah air juga sangat mudah dipengaruhi kecenderungan untuk latah, ikut-ikutan memilih calon pemimpin yang terbukti meraih dukungan terbanyak (The Bandwagon Effect). Karena pada putaran pertama kemarin, Ahok-Djarot unggul, bisa saja sebagian  pendukung Agus-Sylvi akan memberikan suaranya untuk Ahok-Djarot. Bahkan bukan mustahil ada pendukung Anies-Sandi yang juga ikut-ikutan trend mencoblos Ahok-Djarot. Bila kecenderungan ini yang terjadi, kemungkinan Ahok-Djarot merajai putaran kedua sangat terbuka lebar.

Tetapi ada hal lain yang patut diperhitungkan, yaitu keberadaan partai politik (parpol) pengusung pasangan calon. Masing-masing parpol pengusung punya basis massa setia yang patuh pada keputusan parpol masing-masing. Pada titik ini, keberhasilan membina koalisi dapat jadi penentu kemenangan pasangan calon dalam putaran kedua.

Kunci perebutan dukungan dari parpol pun tergantung tiga aktor di balik pasangan calon, yaitu Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum Gerindra, dan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Jika mereka memutuskan akan berkoalisi dengan parpol tertentu, yang kemudian diamini oleh massa pendukung masing-masing, maka nasib Ahok-Djarot dan Anies Sandi sangat tergantung pada peta koalisi yang akan terbentuk.

Sejauh ini, sinyal koalisi parpol pendukung Agus-Sylvi dan parpol pendukung Anies-Sandi memang lebih kuat terlihat. Setidaknya Partai Gerindra selaku pendukung Anies-Sandi telah lebih dulu memberi tawaran koalisi.

“Kami akan melakukan komunikasi politik dulu. Kalau ingin berkoalisi, kami harus pelajari secara lengkap visi-misi kedua paslon (pasangan calon) ini. Mana yang visi-misinya paling sejalan,” ujar Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Nachrowi Ramli, di Wisma Proklamasi 41, Menteng.

Terlepas dari faktor Partai Gerindra, bila saja parpol pengusung Ahok-Djarot berhasil menarik parpol-parpol pendukung Agus-Sylvi lainnya untuk merapat ke kubu Ahok-Djarot, maka hasil akhirnya bisa berubah.

PDI Perjuangan sendiri sudah membuka pintu untuk berkoalisi. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, barisan pendukung Ahok-Djarot siap menerima peluang koalisi dengan pendukung Agus-Sylvi. “Partai yang mengusung Jokowi-JK ini jadi skala prioritas bagi kami untuk berdialog menyiapkan kerja sama. Ada PAN, PKB, dan PPP juga,” ujar Hasto di Kebagusan.

PDI Perjuangan belum merinci strategi apa yang hendak ditempuh untuk memenangkan pasangan Ahok-Djarot pada putaran kedua. Hanya saja, saat berpidato di Rumah Lembang, yang merupakan basis tim pemenangannya, Ahok merujuk hasil jajak pendapat sebuah lembaga survei yang menyebutkan elektabilitasnya sangat rendah, hanya 10%. Namun, hitung cepat lembagai survei itu sekarang malah menempatkan Ahok-Djarotdi posisi teratas.

Artinya, politik tidak tergantung hitung-hitungan di atas kertas. Politik ibarat angin yang bisa berembus kemana pun dia suka.

Penulis: Yono Karbol

Exit mobile version