Suaranusantara.com – Mark Zuckerberg, Direktur Eksekutif Meta dan pendiri Facebook, baru-baru ini memperkenalkan Threads, platform baru yang diharapkan menjadi pesaing Twitter.
Dalam unggahan pertamanya di Threads, Zuckerberg menyambut pengguna dengan semangat, menulis “Mari kita lakukan ini. Selamat datang di Threads,” sambil menggunakan emoji api.
Langkah ini dianggap sebagai respons langsung terhadap Elon Musk, dengan meluncurkan Threads Instagram yang menyerupai Twitter milik Musk.
Peluncuran Threads terjadi di tengah ketidakpuasan publik terhadap pembatasan Twitter, di mana hanya pengguna berlangganan yang diperbolehkan membaca cuitan dalam jumlah yang lebih banyak.
Threads, yang memiliki format teks mirip dengan Twitter, langsung tersedia untuk sistem operasi Apple dan Android. Beberapa akun selebriti, termasuk Shakira dan Jack Black, telah aktif di platform tersebut. Media seperti Vice, Netflix, dan The Hollywood Reporter juga ikut bergabung.
Setelah diluncurkan, akun-akun pengguna di Threads langsung ramai dengan komentar-komentar yang menyindir dan mengejek Musk serta Twitter-nya. Proses pendaftaran di Threads sangat mudah setelah mengunduh aplikasinya, karena dapat terhubung langsung dengan akun Instagram, menghilangkan kebutuhan pengisian data awal.
Seperti Instagram, di Threads pengguna dapat mengunggah video dan menggunakan berbagai fitur seperti tombol “like”, “repost”, dan “quote”. Terdapat juga penghitung jumlah “like” dan balasan yang diterima setiap unggahan. Dalam Threads, batasan karakter untuk setiap unggahan adalah 500 karakter, lebih tinggi dari batas karakter Twitter yang hanya 280.
Selain teks, pengguna juga dapat menyertakan tautan, foto, dan video dengan durasi hingga lima menit. Namun, Threads tidak memiliki fitur pesan langsung atau DM seperti yang ada di Twitter.
Meta, perusahaan yang mengendalikan Instagram, menyatakan bahwa visi mereka adalah menjadikan Threads sebagai aplikasi yang fokus pada teks dan dialog, mengikuti jejak sukses Instagram dalam bidang foto dan video.
Meta juga menekankan pentingnya menjaga keamanan pengguna dengan menegakkan pedoman komunitas Instagram dan memberikan alat pengontrolan untuk mengatur siapa yang dapat menyebut atau membalas pengguna.
Meskipun Threads menawarkan keunggulan baru, ada kekhawatiran terkait privasi data. Threads memiliki kemampuan untuk mengumpulkan berbagai informasi pribadi, termasuk data kesehatan, keuangan, kontak, riwayat penelusuran, data lokasi, riwayat pembelian, dan “info sensitif”.
Di Uni Eropa (UE), Threads tidak dapat diluncurkan karena adanya regulasi ketat tentang privasi data, seperti Digital Markets Act (DMA). Meta telah menginformasikan Komisi Privasi Data Irlandia bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk meluncurkan Threads di 27 negara anggota UE.
Pengawas privasi di Irlandia adalah regulator utama Meta di UE karena kantor pusat regional perusahaan berada di Dublin.(red)
